Mengenali Kebiasaan Ngompol Pada Anak


Mengatasi Kebiasaan Ngompol Anak. Kebiasaan ngompol pada anak yang sudah duduk di bangku sekolah kadang membuat jengkel orangtua. Tak jarang omelan keluar dari mulut seorang ibu karena harus menjemur kasur yang basah oleh air kencing anaknya. Namun, sebelum marah sebaiknya orangtua paham apa dan mengapa ngompol itu terjadi.

Dokter spesialis anak dr Mohammad Sjaifullah Noer SpA(K), ngompol yang dalam bahasa medis disebut enuresis merupakan pengeluaran air kencing yang tidak disadari. Terjadi pada tempat dan waktu yang secara sosial dianggap tidak benar. Frekuensinya tidak satu atau dua kali saja dalam seminggu, melainkan setiap malam. Padahal anak dianggap sudah mampu mengendalikan kandung kemihnya.

“Bayi ngompol 20 kali sehari itu tergolong normal. Tetapi, kalau anak usia lima tahun masih ngompol lebih dari delapan kali sehari, nah itu bisa dibilang tidak normal,” ujar Sjaifullah. Sebab, anak usia satu hingga dua tahun sudah mampu merasakan kandung kemih (buli-buli)nya yang penuh. Memasuki usia empat tahun, mereka sebenarnya sudah mampu merasakan volume buli-bulinya dan bisa mengendalikan keinginan buang air kecil, sehingga tidak ngompol lagi.
Sebagian besar anak usia lima tahun masih suka ngompol, mencapai 15-20 persen. Daripada anak usia 10 tahun (7 persen) dan usia 15 tahun (1-2 persen). Sementara anak laki-laki di bawah usia 11 tahun yang masih suka ngompol jumlahnya lebih kecil dibanding anak perempuan. Perbandingannya 2:1. Sebaliknya anak-anak laki-laki yang usianya di atas 11 tahun tercatat 1:1.
Cari Tahu Penyebabnya


Mengapa mereka masih juga ngompol? Orangtua perlu tahu dulu apakah si anak pernah ngompol atau tidak sebelumnya. “Kalau sejak lahir ngompol terus kemungkinan ada infeksi pada saluran kencing, ini termasuk enuresis primer,” terang Sjaifullah yang praktik di Rumah Sakit Husada Utama (RSHU) Surabaya ini.

Infeksi ini disebabkan rusaknya dinding buli-buli sehingga obat-obatan tidak bekerja dengan baik. Anak yang menderita infeksi saluran kencing (ISK), 45 persen di antaranya akan ngompol. Sedangkan anak yang tidak menderita ISK, hanya 17 persen saja yang ngompol.

Bisa juga karena faktor genetik (keturunan). Jika kedua orangtuanya menderita enuresis di masa kecil, kemungkinan anak akan mengalami enuresis 77 persen. Sebaliknya, bila salah satu orangtua enuresis, anak kemungkinan enuresis 44 persen. Kalau kedua orangtua tidak pernah ngompol sama sekali, kemungkinan menurun pada anak 15 persen.
Selain dua faktor tersebut, masih ada beberapa sebab mengapa anak sering ngompol. Antara lain, golongan sosio-ekonomi rendah, hambatan sosial atau psikologis selama masa perkembangan (umur 2-4 tahun), latar belakang pendidikan orangtua rendah, toilet training tidak pernah diterapkan atau karena dia adalah anak pertama.

“Tetapi, 99 persen kejadian tanpa disertai kelainan anatomi saluran kemih. Justru faktor psikologis anak usia dua hingga empat tahun adalah pemicu utamanya, biasa disebut enuresis sekunder,” kata Sjaifullah. Padahal, di masa itu anak sudah mengerti kalau kencing harus ke kamar mandi.

Sebab psikologis itu biasanya berupa stres akibat perceraian orang tuanya, berpisah dengan keluarga, kematian keluarga, kelahiran saudara, pindah rumah, iri atas kelahiran adiknya atau child abuse (kekerasan pada anak). Untuk itu sebaiknya saat anak berusia satu tahun, segera kenalkan konsep toilet training (latihan pola buang air kemih yang baik).

“Orangtua sebaiknya tahu kapan anaknya biasa ngompol,” saran Sjaifullah. Sehingga, sebelum waktu ngompol, anak bisa dibangunkan dan diajak ke toilet untuk kencing. Lama kelamaan anak akan sadar dan terbangun dengan sendirinya di waktu malam untuk kencing. Tak lupa untuk memotivasi anak-anak dengan memberi pujian dan penghargaan setiap kali berhasil tidak ngompol, serta menjelaskan bahwa ngompol itu bukan kesalahan mereka.

Meski ada juga cara farmakologi (obat-obatan) untuk mengatasinya. Yaitu dengan memberi ADH (anti diuretic hormon) yang mampu menghambat kencing, anti depresan (merelakskan kandung kemih agar tidak terasa tebal), akupuntur, hipnosis, atau homeopathy. “Kebiasaan ngompol ini 50 persen akan sembuh dalam empat tahun,” ucap Sjaifullah. marta nurfaidahLangkah Mencegah Anak Ngompol


Jika ngompol masih menjadi kebiasaan anak-anak di saat mereka bukan lagi bayi, cobalah tujuh langkah berikut ini:
  1. Beri pujian dan penghargaan setiap kali anak berhasil tidak ngompol.
  2. Jelaskan bahwa ngompol itu bukan kesalahan mereka.
  3. Beri lampu atau penerangan yang cukup agar anak dapat pergi sendiri ke kamar mandi untuk kencing di malam hari.
  4. Sekitar usia satu tahun, ajari anak agar bilang dulu sebelum kencing sehingga mereka tidak ngompol.
  5. Ajak anak ke kamar mandi sebelum tidur atau sediakan pispot di dekat tempat tidur.
  6. Kurangi minum di malam hari.
  7. Pastikan anak sudah bersih atau mandi sebelum berangkat sekolah. ida
Demikian hal-hal yang sebaiknya diketahui seputar kebiasaan ngompol anak serta tips dan trik yang bisa diambil oleh para orang tua untuk mengatasi kebiasaan anak yang masih ngompol pada malam hari. Semoga bermanfaat.


  • Pahami Kunci Sukses Menjadi Suami Istri Ideal Berikut
    Ketika kita memutuskan untuk menikah, tentunya kita berangan-angan ingin menjadi suami atau istri yang baik. Nyatanya untuk jadi suami atau istri yang ideal itu susah-susah gampang terutama bila…
  • Memahami Fenomena Pengemis Di Bulan Ramadhan
    Memahami Fenomena Pengemis Di Bulan Ramadhan. Tidak mudah membujuk Dora (15) bicara. Gadis itu selalu menutup mulut bila ditanya seputar pekerjaannya menjadi pengemis di salah satu lampu merah Tanah…
  • Fashion and beauty for your Destination Wedding
    Fashion and beauty for your Destination Wedding - If you're getting married overseas, there are a few extra considerations when it comes to looking good. It's time to start planning your 'princess…
  • Breast cancer for beginners
    Breast cancer for beginners - Because of the social changes, which has brought increased number of workingwoman and hence delayed childbearing, there has been a steep rise in the number of breast…
  • Berjodoh, Bercerai, Berjodoh Lagi
    Berjodoh, bercerai, kemudian berjodoh lagi sering kali sukar ditebak. Manakala seseorang memutuskan menikah lagi, setelah sempat sendiri, maka ada banyak pertimbangan yang mengiringinya. Malah konon…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kesehatan (50) Fisikologi Anak (37) Ibu dan Buah Hati (36) Rahasia Pria (33) Pasangan Hidup (31) Fisikologi (30) Anak (29) Tips dan Triks (29) Agama (28) Karyawan (25) Puasa Dan Lebaran (25) Ramuan Herbal (25) Kehamilan (23) Filosofi (21) Orang Tua (20) Penyakit (20) Rahasia Wanita (20) Beauty (19) Rahasia Tubuh (19) Produk (18) Suami Isteri (17) Tips and Trick (17) Health (16) Insomnia (16) Pendidikan (16) Pendidikan Anak (15) Rumah Tangga (15) Gaya Hidup (14) Lifestyle (14) Mitos dan Fakta (13) Tekhnologi Untuk Anak (13) Bahasa Tubuh (12) Budaya (12) Kasih Sayang (12) Kecerdasan Anak (12) Friendships (11) Kecantikan (11) No Smoking (11) Remaja (11) Diet (10) Kehidupan (10) Masalah Tidur Pada Anak (10) Autisme (9) Breast Bancer (9) Kesehatan Anak (9) Beauty Products (8) Makanan (8) Dating (7) Fashions (7) Kesehatan Wanita (7) Kesehatan Gigi (7) Moral (7) Beauty Recipes (6) Facebook (6) Hukum Islam (6) Kartu Kredit (6) Perawatan Rambut (6) Pernikahan (6) Perselingkuhan (6) Jewelry (5) Kesehatan Kulit (5) Pengobatan (5) Bayi Prematur (4) Breast Feeding (4) Fenomena (4) Keamanan (4) Products (4) Tekhnologi (4) Therapy (4) Wedding (4) Baby Gift (3) Baby games (3) Inner Beauty (3) Kejahatan (3) Multivitamin (3) Online Dating (3) Pendidikan Keluarga (3) Rezeki (3) Seluk Beluk Payudara (3) Seni Bercinta (3) Baby Names (2) Internet Marketing (2) Kanker Payudara (2) Kesehatan Telinga (2) Nasionalisme (2) Natural Beauty (2) Para Penguasa (2) Penyakit Jantung (2) Seksologi (2) Selebritis (2) Sleep (2) Teroris (2) Tontonan Anak (2) Alergi (1) Cancer (1) Demam Berdarah (1) Diabetes (1) Indonesia (1) Kenangan (1) Kesehatan Mata (1) Lung Cancer (1) Natural Product (1) Party (1) Penyakit Maag (1) SEO (1) Science (1) Seluk Beluk Ciuman (1) Seluk Beluk Vagina (1) Wa (1) m (1)