Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Anak Pun Tidak Bisa Dilarang Begitu Saja Ya Bunda ?!!!

Tidak sedikit dari orang tua yang tak tahu cara menumbuhkan karakter pada sang buah hati. Hingga banyak anak yang tumbuh menjadi pembangkang atau nakal.

Sebetulnya, pembentukan karakter anak itu dimulai dari lingkungan keluarga. Sebab anak akan mengikuti segala hal yang didengar, dirasakan, serta dilihat dari orang sekitar. Ketika anak melihat perlakuan yang tidak baik, ia akan mempunyai sikap yang tidak baik pula. Misalnya anak sering menyaksikan pertengkaran orang tua.

Proses penumbuhan karakter, sudah dimulai kala si anak masih di dalam kandungan. Yakni dengan mengajak berbincang si calon anak. Sampai lahir, orang tua harus tetap mengajarkan hal positif. Sebab kala lahir, bayi harus merasakan nyaman di lingkungan keluarga. 


Dan ketika ibu cenderung mengabaikan, anak pun akan merasa tidak disayang. Meski belum bisa berbicara, setiap bayi pun memiliki perasaan.

Orang tua harus pula memberikan contoh yang baik pada anak. Misalnya mengucapkan terima kasih ketika anak membantu atau memberikan sesuatu. Karena ketika anak sudah tahu melakukan sesuatu yang baik, dia akan berpikir bertindak yang baik pula. 

“Anak akan memahami kenapa melakukan hal baik, hingga karakternya akan terbentuk dengan baik.”

Waktu anak melakukan kebaikan, orang tua harus memuji atau memberikan hadiah. Namun jika sang buah hati melakukan kesalahan, misalnya berbohong, orang tua bisa memberikan hukuman. Tapi tidak berupa kekerasan.

Orang tua juga bisa mengajak anak membuat kontrak pola asuh. Misalnya jika si anak melakukan kesalahan, tidak akan mendapatkan pujian atau hadiah. 

Sistem ini sendiri bisa mulai diterapkan pada saat buah hati berumur satu tahun. Karena di usia satu hingga tiga tahun, anak tengah berada pada masa ekplorasi, seperti menelaah lingkungan.

Pada masa ini pula orang tua berkesempatan untuk memberitahukan anak akan akibat dari kesalahannya. “Misalnya tidak boleh memanjat, nanti jatuh,”.

Anak pun tidak bisa dilarang begitu saja. Harus ada alasan yang masuk akal si anak. Jika tanpa alasan, bisa berdampak yang buruk bagi pembentukan karakter anak. Sebab ia tidak akan mengerti akan kesalahan yang telah dilakukan. “Anak tidak tahu bahwa orang tua melarangnya, Dan dia tidak akan tahu mana yang baik dan tidak.”

Agar anak memahami nilai-nilai sosial, orang tua harus menanamkan pola ini secara baik dan konsisten. Kalau perlu memberikan sebuan konsekuensi. Misalnya disiplin dan meminta maaf kala melakukan kesalahan. Bila tidak, anak akan gagal menyerap nila sosial itu.

READ MORE - Anak Pun Tidak Bisa Dilarang Begitu Saja Ya Bunda ?!!!

Strategi Jitu Melatih Daya Ingat Anak

Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang dapat menghafal dengan mudah. Namun, ada juga yang kurang. Bagi yang mudah, tentu itu tidak terlalu bermasalah. Tapi, bagaimana bagi yang kurang?


Sebagai orang tua, Anda harus bisa membimbing anak-anak Anda menjadi orang yang dapat berguna dikemudian hari. Salah satunya dengan membimbing anak agar mau dan mudah untuk menghafal. 

Bila Anda sebagai orang tua masih bingung bagaimana agar anak menghafal dengan mudah, inilah beberapa cara yang dapat Anda dilakukan.

1. Melatih anak untuk fokus

Melatih anak untuk bisa fokus, bukan berarti memaksa anak untuk memperhatikan apa yang kita jelaskan. 

Hal yang terpenting disini adalah memberikan sesuatu yang menarik sehingga anak bisa dengan senang hati memperhatikan apa yang kita jelaskan.

2. Berikan motivasi

Berikan motivasi dengan pujian dan dorongan yang positif untuk menambah kepercayaan diri pada anak bahwa ia mampu melakukannya. 

Berikan pujian setiap kali melakukan kegiatan menstimulasi daya ingat anak walaupun anak kurang berhasil melakukannya. Tunjukkan rasa sayang anda pada anak, sehingga ia akan selalu merasa optimis dan percaya diri.

3. Pembiasaan

Seperti kata pepatah “bisa karena biasa”, ini juga merupakan hal yang penting dalam meningkatkan daya ingat pada anak. Jangan bosan mengajarkan pembiasaan pada anak. Misalnya, setiap diberikan sesuatu oleh orang lain ajarkan anak untuk mengucapkan terimakasih. 

Ingatkan selalu dengan menanyakan kembali kepadanya. Contohnya saat ada temannya yang memberikannya makanan, tanyakan padanya “Ayo adek bilang apa sama temannya?” Lakukan selalu dan ini akan terus melekat didalam ingatan anak hingga ia dewasa kelak.

4. Berikan pemahaman

Anak yang tidak paham akan apa yang didengarnya tentu saja akan sulit menerima informasi tersebut, apalagi untuk mengingatnya. 

Dengan menghafal saja informasi ini akan mudah hilang dari ingatannya. Jadi sebelum memberitahukan sesuatu kepada anak, pastikan anak paham akan apa yang diterimanya.

5. Lingkungan belajar

Lingkungan belajar juga berpengaruh pada proses belajar anak. Mungkin anak Anda memiliki intellegensi yang cukup bagus. Namun sulit jika ia belajar di tempat yang gaduh dan banyak gangguan. 

Anda harus menyediakan tempat belajar anak yang “layak”. Maksud dari lingkungan belajar yang “layak” adalah khusus sebagai tempat belajar, tidak gaduh, dan penataan ruangan yang rapi.

6. Tidak membanding-bandingkan

Hindari membanding-bandingkan dengan anak yang lain, apalagi saudaranya sendiri. Hal ini bisa melemahkan semangat anak untuk belajar. 

Yang patut Anda pahami disini adalah bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Dalam hal mengingat sesuatu, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda, ada yang bisa mengingat dengan cepat, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. 

Karena ada kemungkinan anak mengalami “low memorizing” karena kurang perhatiannya Anda sebagai orang tua, sehingga anak merasa terbebani disaat harus menghadapi segala masalahnya sendiri. ( islampos )

READ MORE - Strategi Jitu Melatih Daya Ingat Anak

Beginilah Cara Mengasah Kecerdasan Bayi

Beginilah Cara Mengasah Kecerdasan Bayi -- Perdebatan yang panjang menyatakan bahwa kecerdasan adalah warisan yang diperoleh bayi karena orangtuanya cerdas. Namun, tekanan orangtua untuk membesarkan bayinya menjadi cerdas memang luar biasa. Tanggung jawab orangtua tidak terbatas. Setiap orang menginginkan yang terbaik untuk anak mereka, sekarang, dan kehidupan di masa datang.

Apakah mungkin mengasah kecerdasan anak pada tahap awal hingga menjadi genius di kemudian hari? Ya! Semua dimulai dari orangtua. Dua tahun pertama kelahirannya, bayi dibuat siap untuk asupan pengetahuan.

Berikut ini tipsnya.

Cara Mengasah Kecerdasan Bayi


* Mulai dari awal.

Mulailah awal pada saat perkembangan otak bayi. Ini berarti bahkan sebelum lahir. Bangun otak bayi ketika ia masih janin. Mulailah membacakan cerita untuk janin Anda. Hindari zat seperti alkohol, obat-obatan, merokok, timbal, dan merkuri yang berbahaya bagi perkembangan otak bayi. Penuhi gizi yang cukup untuk perkembangan otak bayi seperti asam folat dan minyak ikan. Minumlah obat-obatan yang hanya dianjurkan dari konsultasi dengan dokter kandungan.

* Menyusui itu penting.

ASI mengandung nutrisi yang tak terhitung jumlahnya yang penting bagi pertumbuhan bayi. Salah satu unsur penting disebut asam docosahexaenoic (DHA), yang merupakan asam lemak esensial yang penting bagi perkembangan otak. DHA bertanggung jawab 40 - 50% dari berat otak yang diukur dalam neuron dan membran. Banyak perusahaan makanan yang meniru bahan ini di laboratorium dan menambahkannya ke makanan bayi. Namun, DHA alami tetap ada dalam ASI.

* Bacakan cerita untuk bayi.

Pada awalnya, bayi mungkin tidak akan mengerti apa yang dibacakan. Namun, dengan dibacakan secara terus menerus membantu mereka untuk mendengar, mengenali kata-kata dan artinya. Proses ini penting dalam membantu pembicaraan mereka dan membangun kosa kata.

* Belikan mainan cerdas.

Mainan berperan penting dalam perkemabngan otak bayi. Namun, begitu banyak perusahaan mainan yang mengklaim bahwa produksi mereka yang terbaik untuk bayi dan ini membuat kita bingung. Kuncinya adalah pilihlah mainan sesuai tahap perkembangan biologis bayi. Bisa juga dengan permainan sederhana. Gunakan imajinasi untuk membantu membangun koordinasi mata-tangan bayi.

* Permainan isyarat dengan bayi.
Buat bayi kita mempelajari tanda-tanda dimulai dari umur 4 bulan. Penelitian menunjukkan, menggunakan bahasa isyarat meningkatkan bahasa lisan serta IQ yang lebih tinggi.

* Memperkenalkan bahasa asing.

Pada usia yang tepat, perkenalkan anak ke suara dan tata bahasa dari bahasa asing. Putar VCD bahasa asing untuk meningkatkan kosa kata anak. Jika ada anggota keluarga yang fasih berbahasa asing, jangan ragu-ragu untuk meminta bantuan mereka.

* Kontak fisik yang lebih.

Menyentuh bayi sangat penting untuk pertumbuhan emosional mereka. Belai kepala bayi, tungkai, dan tubuh mereka juga membuat koneksi neurologis yang penting untuk perkembangan otak. Ini juga membantu memperkuat ikatan batin dengan bayi Anda.

Kunci utama untuk meningkatkan kecerdasan bayi adalah mengetahui bahwa otak manusia ingin bertahan hidup dan terhubung dengan orang lain. Pastikan bayi merasa aman, dicintai, serta terlindungi, dan bayi Anda pun tumbuh dengan kecerdasannya. ( tribunnews.com )

READ MORE - Beginilah Cara Mengasah Kecerdasan Bayi

Karena Dilarang Bermain, Anak Taiwan Jadi Sangat Gemuk

Karena Dilarang Bermain, Anak Taiwan Jadi Sangat Gemuk --Angka kegemukan di kalangan anak Taiwan kini menyaingi anak di Amerika Serikat, dan seperempat dari mereka diklasifikasikan sebagai kegemukan atau sangat gemuk. Demikian dikatakan seorang dokter, setelah mengumpulkan jumlah dari seluruh pulau tersebut.

Jumlah anak di Taiwan yang diklasifikasikan sebagai kelebihan berat atau gemuk telah melampaui enam persen pada satu dasawarsa lalu jadi 25 persen, tak jauh dari angka di AS, yaitu sepertiga, kata dokter Chu Nian-feng dari Shuang Ho Hospital, dekat Taipei.

Setelah mengumpulkan data kesehatan dari seluruh Taiwan, Chu mengatakan bahwa seperti di Barat, makanan sampah, minuman bergula dan kurang olahraga adalah penyebab semua itu.

Karena Dilarang Bermain, Anak Taiwan Jadi Sangat Gemuk

Namun kebudayaan akademis di Taiwan juga menjadi faktor karena orang-tua yang selalu mendesak membuat anak mereka terus bergelut dengan buku sekolah dan bukan mengizinkan mereka bermain.

"Sepuluh atau 20 tahun lalu, anak Taiwan mengkonsumsi makanan dengan 400-500 kalori, tapi sekarang banyak anak menyantap 1.000 atau bahkan sampai 2.000 kalori dalam sekali makan," kata dokter tersebut, yang rumah sakitnya adalah bagian dari Taipei Medical University."Dan mereka menonton TV, main video dan komputer. Dalam kondisi semacam itu, bagaimana mereka takkan jadi kelebihan berat?" katanya.

Anak yang kelebihan berat badan atau kegemukan memiliki resiko yang jauh lebih tinggi untuk terserang penyakit jantung dan urat darah dalam hidup mereka kelak, kata Chu. ( afp/ant/rin )

READ MORE - Karena Dilarang Bermain, Anak Taiwan Jadi Sangat Gemuk

Kiat Praktis Mendidik Anak Mencintai Islam

Cara Mudah Mendidik Anak Mencintai Islam - Setiap orangtua tentu menginginkan anaknya menjadi saleh dan mencintai agamanya. Bagaimana caranya?

Ibnu Asakir meriwayatkan Hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) melarang Umair bin Abi Waqqas ikut dalam perang Badar karena dianggap masih kecil. Tapi anehnya, larangan itu membuat Umair terpukul dan menangis. Sekalipun masih kecil, di dalam diri Umair sudah tertanam kuat bahwa perang membela Islam itu sebuah kemuliaan yang amat tinggi.

Melihat reaksi Umair, Rasulullah SAW luluh juga. Beliau kemudian mengijinkan anak yang belum cukup umur itu ikut berjihad.

Kisah lain diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah Asy-Sya’bi yang terjadi pada perang Uhud. Ada seorang ibu dengan sangat semangat mengantarkan anaknya yang masih kecil kepada Rasulullah SAW agar diikutkan perang. Dia berharap sekali agar Rasulullah SAW mengizinkan anaknya berpartisipasi dalam berjihad seraya berkata, “Ya Rasulullah, ini anakku sudah siap menyertai Anda berperang.” Rasulullah SAW kemudian memerintahkan anak itu membantu membawa peralatan perang.

Pada waktu perang berlangsung, anak tersebut terluka. Ia lalu mendatangi Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Hai anakku, semoga engkau tidak gelisah dan bersedih hati!” Dengan tegas ia menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.”

Kiat Praktis Mendidik Anak Mencintai Islam

Kisah di atas adalah sebuah gambaran bagaimana para sahabat Rasulullah SAW berhasil mendidik putra-putranya mencintai Islam sepenuh jiwa dan raganya. Sekarang pertanyaannya, bisakah kita mendidik anak-anak kita menjadi anak seperti kisah di atas ?

Harus kita akui bahwa menjadi orangtua pada zaman sekarang tidaklah mudah. Apalagi jika mengharapkan anak yang tidak sekedar pintar, melainkan juga taat dan mencintai Islam sepenuhnya.

Untuk mendidik anak agar saleh, kita tidak bisa sepenuhnya menyerahkan kepada sekolah. Tapi peran aktif orangtua juga amat diperlukan dalam masalah ini. Orangtua harus menjadi contoh yang baik bagi anaknya.

Mana mungkin anak mau disuruh shalat atau membaca al-Qur`an, jika orangtuanya tidak shalat dan tidak senang membaca Kitab Suci tersebut.

Nah, di bawah ini ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orangtua dalam mendidik anaknya agar menjadi anak yang saleh dan mencintai Islam.

1. Menanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini

Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang punya pengaruh besar dalam tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (Riwayat Bukhari).

Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si buah hati mengenal secara benar siapa Tuhannya. Sejak masih dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Begitu lahir, si bayi dibiasakan mendengarkan ayat-ayat al-Qur`an.

Pada usia dini, anak diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah SWT. Dari sini orangtuanya bisa menyampaikan kepada anaknya, mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah SWT.

Selanjutnya, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah SWT. Dengan cara ini anak mengetahui betapa Allah Maha Besar, Maha Perkasa, Maha Kaya dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada dirinya untuk senantiasa mengagungkan Allah SWT dan bergantung hanya kepada-Nya. Lebih dari itu, kita berharap dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah SWT; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah SWT.

Kemudian, penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah SWT misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Qur`an bersama.

Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlak seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan sampai luput untuk mengajarkan bahwa itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.

2. Kerjasama Ayah dan Ibu

Anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh langsung dari orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Oleh karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal saleh. Insya Allah, dengan begitu anak akan mudah diingatkan secara sukarela.

Tentu saja hal yang demikian membutuhkan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung. Bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, seorang ayah sudah bersusah payah agar anaknya mau shalat. Namun, karena sang ibu merasa tidak perlu, tentu saja akan membingungkan anaknya dan menjadikan si ibu sebagai alasan dia untuk tidak shalat.

3. Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat

Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan dimana dia beraktivitas, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat secara luas.

Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.

Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim.

Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.

Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus dilakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah.
 *Ernawaty, pengajar di TK Ya Bunayya Surabaya. (Hidayatullah.com)

READ MORE - Kiat Praktis Mendidik Anak Mencintai Islam

Beginlah Cara Maksimalkan Potensi Kecerdasan Anak Dengan Latihan Emosi Yang Tepat

Seorang anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik tentu karena peran orang tua dan lingkungan sekitarnya. Namun, kebebasan seorang anak untuk berekspresi kadang terhambat lantaran anak-- terlebih laki-laki-- sering dilabelisasi terhadap sosok yang harus kuat. Tidak boleh menangis.

Padahal, jenis emosi baik senang, sedih, bangga, haru, dan jijik itu semua perasaan yang baik laki-laki maupun perempuan boleh mengekspresikannya. Demikian penuturan Fadhilah Suralaga, M.Psi, Pembantu Dekan (Pudek) Bidang Akademik Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Lebih lanjut Pudek I yang juga merangkap dosen psikologi pendidikan UIN Jakarta ini menegaskan bahwa pada hakikatnya perempuan dan laki-laki adalah sama.

"Pada psikologi perkembangan, dapat dibuktikan bahwa laki-laki dan perempuan pada hakikatnya sama. Namun, karena bentuk fisik yang berbeda, maka peranan pun berbeda," ujar Fadhilah, Selasa (28/9).


Dalam psikologi perkembangan, kata Fadhilah, akan pula terbukti bahwa laki-laki yang dilabelisasi sebagai sosok yang kuat, berani dan tangguh tidak semua seperti itu. "Sebaliknya, perempuan yang dianggap sensitif, mudah menangis, terlalu berperasaan, pemalu, tidak semua juga seperti itu," ujarnya. 

Oleh karenanya, lanjut Fadhilah, kebebasan berekspresi adalah bawaan yang memang idealnya tak boleh ditahan. "Sebab, jika ditahan, maka fungsi-fungsi emosional tidak berjalan secara baik," katanya.

Sebaiknya pula, ujar Fadhilah, sebagai orang tua yang baik dan mengenal perkembangan emosi anak, label stereotipe pada laki-laki yang sering dianjurkan untuk tidak menangis (cengeng- red) sebaiknya tidak terus dipraktikkan. "Pembinaan emosi saat mencapai kematangan emosi perlu dikenali kepada anak-anak sejak dini. Sehingga, emosi tidak boleh ditahan," ungkapnya.

Menurut Fadhilah, tumbuh kembang anak akan berkembang dengan baik saat mereka dikenali beberapa jenis emosi. Setidaknya, ada empat langkah agar emosi anak dapat berkembang dengan baik.

Pertama, kenali jenis-jenis emosi pada anak. "Mengenali jenis emosi pada anak penting. Sehingga pada akhirnya, si anak akan tahu benar kapan ia sedih, senang, murung, jijik, dan lain sebagainya,'' jelasnya.

Selain memperkenalkan jenis emosi kepada anak, langkah kedua adalah mengajarkan mereka untuk mengelola emosinya. "Langkah kedua ini penting, agar anak tersebut mampu mengekspresikan emosinya dengan baik," katanya.

Ketiga, setelah si anak diberikan pemahaman dan pengelolaan emosi ialah ajari mereka untuk memahami emosi orang lain. "Pada tahap ini, mereka akan paham kondisi seseorang saat sedang marah karena ia pun pernah mengalami hal tersebut. Mereka tidak akan tahu seseorang sedang marah, jika ia tidak pernah mengalaminya," ungkapnya.

Terakhir, setelah semua tahapan emosi sudah dikenali pada anak, selanjutnya adalah ajari mereka untuk bersedia berkorban untuk orang lain. "Tahap terakhir ini juga penting karena dapat melahirkan empati terhadap orang lain," tandasnya.

READ MORE - Beginlah Cara Maksimalkan Potensi Kecerdasan Anak Dengan Latihan Emosi Yang Tepat

Terbukti Vaksin MMR Bukan Penyebab Autisme

Kekhawatiran para orangtua akan isu vaksin yang dapat menyebabkan austisme tampaknya akan semakin pudar. Sebuah riset di Amerika Serikat (AS) membuktikan, tidak hubungan sama sekali antara autisme dengan pemberian vaksin MMR (measles, mumps, rubella). 

Riset yang telah dipubliskasi Rabu kemarin dalam jurnal Public Library of Science edisi online ini adalah penelitian yang mematahkan riset sebelumnya oleh Dr Andrew Wakefield dari Royal Free Hospital, Inggris. Dalam risetnya yang kemudian ditarik dari jurnal Lancet, Wakefield mengindikasikan adanya kaitan antara vaksin MMR dan autisme.

Vaksin MMR Penyebab Autisme

Para ahli dari Columbia University New York dan Centers for Disease Control (CDC) membantah indikasi riset Wakefield setelah meneliti sinyal-sinyal penanda genetika dari virus measles (campak) pada sampel jaringan usus 25 anak pengidap autisme yang juga menderita gangguan pencernaan.

Mereka membandingkan sampel tersebut dengan 13 anak lainnya yang bukan autis, tapi mengidap gangguan pencernaan. Jaringan ini lalu dianalisa di tiga laboratorium berbeda dengan sistem pemeriksaan acak.

Menurut peneliti, hasil riset ini telah menyediakan bukti kuat yang mematahkan dugaan adanya hubungan autisme dengan virus campak pada saluran pencernaan ataupun paparan MMR. “Kami tak menemukan hubungan antara masa pemberian vaksin MMR dan kejadian penyakit gastrointestinal ataupun autisme,” ungkap pimpinan riset, Dr Mady Hornig.

Di AS sendiri, klaim pengadilan federal telah mempertimbang komplain para orangtua dalam setahun terakhir. CDC mengatakan, kekhawatiran orangtua akan risiko vaksin membuat mereka enggan memberikan vaksin MMR kepada anak sehingga memicu peningkatan kasus campak di AS dan Eropa.

Penyakit campak menyebabkan kematian pada sekurangnya 250.000 orang per tahun, dan korban sebagian besar adalah anak-anak di negara berkembang. Berdasarkan data CDC, satu dari 150 anak di Amerika mengidap autisme.

READ MORE - Terbukti Vaksin MMR Bukan Penyebab Autisme

Kisah Mengharukan Dari Seorang Gadis Cilik Pencinta Al-Quran

Kisah Mengharukan Dari Seorang Gadis Cilik Pencinta Al-Quran - Ini adalah sebuah kisah nyata tentang seorang anak kecil yang sangat mencintai Al Qur’an, Namanya Shafa’, gadis cilik Al-Jazair berusia 8thn sangat mencintai Al-Qur’an dan syaikh Sudais, Imam Masjidil Haram, sehingga ia juara 1 dalam musabaqoh Al-Qur’an tingkat Al-Jazair. Ia mampu meniru persis bacaan Syaikh Sudais, termasuk doa khatamul Qur’an. Saking cintanya ia pada Syekh Sudais, sampa ia tambahkan akhir namanya dengan Assudaisiyyah sehingga menjadi, Shafa’ Assudaisiyyah. Subhanallah…



Gadis Cilik Pencinta Al-Quran


Setiap saat ia meminta ibunya untuk menemukannya dengen syaikh Sudais. Karena dari keluarga miskin, rumah saja tidak punya, ibunya selalu menghiburnya samabil mengatakan, insya Allah. Sampai pada suatu saat, Sahafa’ marah-marah dan menuduh ibunya berbohong terus dan tidak mau lagi membaca dan menghafal Al-Qur’an. Ibunyapun panik. Saat melihat DR. Muhammad Assuwaini, pakar pendidikan dalam salah satu program TV lokal Al-Jazair, tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk menelepon sang pakar dan menceritakan kasusnya. Ia mohon dihubungkan dengan Syaikh Sudais. Setelah Syaikh Sudais mendengar kisah tersebut, hati Beliau tergerak mengundang Shafa’ dan kedua orang tuannya ke Madinah dan Makkah sebagai tamu kehormatannya.


Saat bertemu syaikh Sudais, Shafa diminta membacakan doa khatmul Qur’an. Shafa’pun melantunkannya persis seperti Syaikh Sudais. Beliau terharu sampai menangis. Akhirnya, Syaikh Sudais memutuskan untuk mengambil Shafa’ menjadi anak angkatanya dan menyekolahkanya sampai ketingkat yang ia inginkan. Inilah secuil kemuliaan yang dilahirkan Al-Qur’an… Siapa yang ingin meraih kemuliaan Al-Qur’an, cintailah ia.. Selamat mencoba…. ( arrahmah.com )

READ MORE - Kisah Mengharukan Dari Seorang Gadis Cilik Pencinta Al-Quran

Inilah Pedoman Praktis Untuk Memantau Perkembangan Kecerdasan Anak Berdasarkan Usia

Inilah Pedoman Untuk Memantau Perkembangan Kecerdasan Anak Berdasarkan Usia. Apakah si Upik yang sudah pandai bicara dan berhitung di usia 2 tahun bisa dibilang anak cerdas? Bagaimana dengan anak yang telah lancar membaca di usia 4 tahun, layakkah disebut cerdas?

Inteligensi yang tinggi seringkali dikaitkan dengan orang yang punya kemampuan secerdas Albert Einstein. Padahal, hingga saat ini belum ada ahli yang bisa merumuskan definisi kecerdasan dengan tepat.


Meski belum ada definisi pasti mengenai kecerdasan, menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi, secara umum kecerdasan merupakan kapasitas yang dimiliki individu sehingga memungkinkan ia untuk belajar, bernalar, dan memecahkan masalah serta melakukan tugas-tugas kognitif tingkat tinggi lainnya.


Apa saja tugas-tugas kognitif tingkat tinggi itu? "Kemampuan berbahasa, daya ingat yang baik, mampu memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir kritis atau menalar," kata psikolog yang akrab disapa Vera ini.


Tentu saja, kecerdasan pada bayi usia di atas lima tahun tidak sama dengan kecerdasan pada balita. Pada usia bayi, kecerdasannya masih seputar perkembangan kemampuan motorik dan bahasa. Sedangkan pada usia balita, kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal dan sosial. Bila anak menunjukkan kemampuan yang melebihi anak seusianya, dapat dikatakan ia memiliki kapasitas belajar yang baik alias cerdas.

Kecerdasan pada anak bisa dideteksi sejak dini, bahkan sejak ia baru lahir. Untuk mengukurnya, orangtua perlu memahami status perkembangan yang normal pada bayi dan balita. Misalnya saja pada usia 6 bulan, bayi seharusnya mampu belajar duduk dan bisa memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan.

Atau anak usia dua tahun seharusnya sudah mulai berkomunikasi dengan kata-kata, serta penuh rasa ingin tahu. "Orangtua harus peka dan bisa mendeteksi sejauh mana perkembangan kemampuan anaknya. Kalau ada keterlambatan, langsung diwaspadai apakah tumbuh kembangnya terhambat atau memang orangtua kurang menstimulasi," kata Vera.

Sebagai pedoman, ada beberapa tahap perkembangan yang dianggap normal dalam arti sudah bisa dikuasai oleh anak pada usia tertentu.

Inilah Pedoman Praktis Untuk Memantau Perkembangan Kecerdasan Anak Berdasarkan Usia

Ilustrasi: Kecerdasan pada bayi usia di atas lima tahun tidak sama dengan kecerdasan pada balita. Pada usia bayi, kecerdasannya masih seputar perkembangan kemampuan motorik dan bahasa. Sedangkan pada usia balita, kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal dan sosial. Bila anak menunjukkan kemampuan yang melebihi anak seusianya, dapat dikatakan ia memiliki kapasitas belajar yang baik alias cerdas. (foto: tbo)


0-3 bulan:

Hanya menampilkan respons refleks atas stimulus. Bahasa yang dikuasai hanyalah berupa tangisan.

4 bulan:

Mulai memiliki kontrol atas tubuhnya sendiri dan menunjukkan awal mula kemampuan motorik halus. Mulai mampu merespons secara sosial dengan senyuman dan bunyi-bunyian.

6 bulan:

Mulai belajar duduk dan merangkak. Sudah memiliki kemampuan mengontrol gerakan tangan sehingga mampu memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan. Bahkan sudah memiliki kemampuan koordinasi mata dan tangan untuk menggapai benda.

9 bulan:

Sudah mulai mampu menggunakan jari jemarinya untuk makan sendiri. Mulai mencoba merangkak dan berdiri. Mencoba menggunakan kata atau suku kata sederhana.

12 bulan (tahun pertama):

Terlihat perkembangan yang cukup pesat pada anak dan ia mulai menunjukkan kemampuan menguasai berbagai hal.

Tahun ke-2:

Mulai independent, senang mengeksplorasi, penuh rasa ingin tahu, mencoba berbagai kemampuan baru, berkomunikasi dengan kata-kata, mencoba memahami sebab-akibat melalui kemampuan motorik, dan menguasai proses belajar dalam arti yang sesungguhnya.

Tahun ke-3:

Anak sudah menunjukkan penguasaan yang jauh lebih baik pada berbagai alat untuk belajar, seperti bahasa, ingatan, kemampuan motor, dan perasaan tentang dirinya sendiri.

Tahun ke-4 dan ke-5:

Kemampuan belajar anak jauh lebih berkembang sehingga memungkinkan ia menerima proses belajar secara formal.

Pola belajar yang diterapkan pada anak usia dini tidaklah sama dengan pola belajar pada anak usia sekolah dasar ke atas. Salah satu strategi pengajarannya adalah melalui pendidikan karakter secara holistik.

Hal itu diutarakan oleh Halimah, seorang pemerhati pendidikan anak usia dini (PAUD) di Gresik, Jawa Timur. Halimah mengatakan, pola pendidikan tersebut melibatkan tiga aspek, yaitu mengetahui, mencintai, dan melakukan kebajikan pada anak-anak usia dini.

Menurut Halimah, program pendidikan pada anak usia dini menyangkut kemampuan tenaga pendidik. Tenaga pendidik merupakan sumber belajar dalam memahami pola belajar dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

Halimah menambahkan, semua aspek perkembangan kecerdasan anak, baik motorik kasar, motorik halus, kemampuan non-fisik, maupun kemampuan spiritualnya dapat berkembang secara pesat apabila memperoleh stimulasi lingkungan secara cukup.

"Perkembangan yang terjadi pada usia dini sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya," kata Halimah, yang juga mengasuh TK Mahkota di Gresik.

Kecerdasan anak bukan hanya satu, namun banyak. Untuk mengetahui kecerdasan yang dimiliki setiap anak, kini dapat menggunakan metode baru. Yakni multiple intelligences research (MIR).

Hal ini diungkapkan Munif Chatib, penulis buku Sekolahnya Manusia, dalam seminar pendidikan nasional yang digelar di Graha Gading Karang. Menurutnya, MIR memiliki kegunaan dalam akademik. Yakni menjadi pedoman bagi guru untuk melihat kecenderungan kecerdasan siswa sehingga dapat disesuaikan gaya mengajar guru.


Lalu, MIR juga dapat digunakan untuk pembagian kelas sesuai dengan kecenderungan kecerdasan. "Metode ini juga dapat digunakan sebagai data riwayat kecerdasan setiap siswa pada riset berikutnya dan untuk memilih jurusan di perguruan tinggi," terangnya.

Selain untuk pengajar, MIR juga sangat berguna untuk orang tua. Yakni sebagai katalisator, sebagai pemantik kreativitas anak. Lalu fasilitator, yakni sebagai sumber informasi untuk orang tua dan anak tentang kebiasaan yang perlu dikembangkan. "MIR juga dapat mempercepat anak menemukan kondisi akhir terbaiknya," lanjutnya.

Dalam seminar yang dibuka langsung oleh Wali Kota Bandarlampung Eddy Sutrisno tersebut, Munif mengatakan setiap anak juga memiliki learning style berbeda. Oleh sebab itu, baik guru maupun orang tua di rumah harus memiliki teaching style. ’’Sederhana saja, cukup pahami gaya belajar anak,’’ katanya. Sebab, memahami cara belajar anak menjadi pintu pembuka bagi pengajar untuk memberikan pembelajaran pada anak.

Pengetahuan learning style anak juga dapat diketahui melalui MIR. Sekelompok anak yang memiliki learning style yang sama akan terkumpul dalam satu kelompok dengan metode ini. Di hadapan para pengajar dan orang tua murid yang hadir, Munif menjelaskan proses terbaik untuk memberikan pelajaran pada anak. Yakni belajar yang berkualitas dan menyenangkan untuk semua kondisi. "Sebanyak 30 persen guru mengajar dan 70 persen siswa belajar," terangnya.

Sebab, sekolah cukup berperan sebagai agen pengubah kondisi siswanya dari kondisi negatif menjadi positif. Sekolah yang baik, lanjut Munif, merupakan sekolah yang mengaitkan materi belajar dengan kehidupan nyata sehari-hari. Sehingga siswa tidak hanya belajar dari konsep-konsep abstrak, tapi pembelajaran yang langsung diaplikasikan.

Selain Munif, dalam seminar ini yang dihelat oleh Lazuardi Haura, Global International School (GIS) ini juga menghadirkan Any Nurhayaty, seorang dosen dan psikolog. Ia menjelaskan, berbagai faktor memengaruhi perkembangan anak. Yakni faktor genetik, lingkungan, serta internal yang meliputi keluarga, teman sebaya, sekolah, dan pengalaman hidup.


Selain pemaparan dari dua pemateri tersebut, dalam acara ini juga dimeriahkan penampilan anak-anak dari sekolah ini. Seperti suguhan tarian, pertunjukan alat musik, dan penampilan para siswa SD dalam olahraga taekwondo.

READ MORE - Inilah Pedoman Praktis Untuk Memantau Perkembangan Kecerdasan Anak Berdasarkan Usia

Beberapa Keanehan - Keanehan Saat Bayi Baru Lahir

Saat hamil, Anda tentu rajin membaca-baca buku dan majalah mengenai kehamilan dan pengasuhan anak. Anda mendapat banyak informasi mengenai persalinan, masa-masa kurang tidur ketika si kecil telah hadir, dan cara-cara menyusui. Namun, sudah tahukah Anda bagaimana kondisi bayi yang baru dilahirkan? Misalnya, mengapa matanya juling, atau suara nafasnya berat?

Dr Alanna Levine, pakar pengasuhan anak di Orangetown Pediatric Associates di New York, membeberkan lima hal yang mungkin akan Anda temukan pada si kecil:

Bayi Lahir


Pindah-pindahkan posisi kepalanya saat tidur, agar tidak peyang.

1. Poop-nya muncrat

Jangan mengaku baru punya bayi bila belum melihat poop yang berceceran di popoknya. Bahkan, poop-nya ini bisa mengenai ranjang atau dinding di sekitarnya. Menurut Dr Levine, "Poop bayi yang baru lahir kebanyakan berupa cairan, bercampur dengan tekstur seperti mustar." Memang tidak butuh tenaga ekstra untuk membersihkannya, hanya sedikit latihan untuk membiasakan diri. Maklum saja, hal ini akan sering Anda alami.

Tinja bayi yang terbilang sehat adalah yang berwarna coklat, atau kuning kehijauan. Jika Anda melihat ada tanda-tanda darah di sana, sebaiknya Anda membawa si kecil ke dokter.

2. Suara erangan

Bayi tak hanya bisa menangis, tetapi juga mengerang, merintih, mendengus, mendengkur, dan berbagai suara aneh lainnya. Semua suara aneh tersebut disebabkan jalan di rongga hidung bayi menyempit pada awal kelahirannya. Hal ini menyebabkan lendirnya terperangkap di sana, dan menciptakan beberapa efek suara yang hebat.

Yang bisa Anda lakukan saat mendengar suara-suara ini adalah membersihkan hidung bayi dengan pompa isap untuk hidung. Perhatikan juga apakah erangan itu terdengar di setiap nafasnya. Jika ya, mungkin ia punya masalah sulit bernafas.

3. Kepalanya peyang

Persalinan bukan hanya sulit dialami oleh ibu, tetapi juga si bayi. Ia pun berusaha keras keluar dari saluran kelahirannya. Bayangkan ketika Anda mengejan saat bayi masih belum keluar sepenuhnya. Kepalanya masih lunak dan mudah dibentuk itu harus melewati tulang pinggul Anda, sehingga menyebabkan bentuknya menjadi gepeng atau peyang.

Jika tidak terjadi saat persalinan, bentuk kepala yang peyang itu juga bisa terjadi jika ia terlalu lama tidur dalam posisi telentang. Karena itu, sering-seringlah menggendong bayi Anda, demikian saran Dr Levine. Atau, pindah-pindahkan posisi mainan atau posisi tidurnya, agar ia tidak hanya menghadap ke satu sisi saja.

Nah, bila Anda sudah mencoba berbagai cara namun kepala bayi masih terlihat rata di beberapa tempat, bayi mungkin membutuhkan semacam helm sementara untuk mengoreksi bentuk kepalanya. Helm semacam ini akan efektif jika dipakai pada usia 4-6 bulan. Segera konsultasikan dengan dokter bila Anda melihat ada yang salah dengan kepalanya.

4. Penisnya bengkak

Pada bayi laki-laki, Anda mungkin akan melihat penisnya sedikit lebih besar daripada yang Anda bayangkan, khususnya pada testisnya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh paparan hormon pada perut Anda sesaat sebelum melahirkan. Kemungkinan lain, ada cairan ekstra di dalam kantung sekitar testikelnya. Namun cairan ini akan dikeluarkan ketika si kecil buang air dalam beberapa hari berikutnya.

Hal yang sama juga terjadi pada bayi perempuan, dimana labia-nya juga terlihat membengkak pada hari-hari pertamanya. Pembengkakan ini juga akan berhenti dalam beberapa hari. Bahkan karena begitu banyaknya cairan yang akan dikeluarkan dalam beberapa hari tersebut, bayi bisa kehilangan 10 persen berat badan awalnya.

Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika bengkak itu tak juga menghilang. Bayi laki-laki bisa mengalami kondisi yang disebut hydrocele, penimbunan cairan di dalam kantung testikelnya.

5. Matanya juling

Bayi yang baru lahir jelas baru mengeksplorasi seluruh kemampuannya, salah satunya adalah indera penglihatannya. Si kecil butuh waktu untuk menemukan kontrol ototnya, dan mengasah teknik-teknis fokusnya. Namun, mata bayi bisa saja terlihat juling, meskipun sebenarnya tidak. Lipatan kulit ekstra di jembatan hidung dapat menutupi bagian putih dari mata bayi. Hal ini bisa menciptakan suatu ilusi optikal yang disebut pseudoesotropia. Perhatikan baik-baik, apakah pupil bayi sebenarnya berbaris rata, atau bergerak bersamaan?

Menurut Dr Levine, jika bayi masih menunjukkan tanda-tanda juling atau mata yang "mengembara" kemana-mana hingga enam bulan, Anda perlu membawanya ke dokter. Bila mata julingnya yang menatap ke dua arah terlihat kronis, kemungkinan ia mengalami strabismus. Bila hanya satu mata yang menatap ke arah lain, hal ini disebut amblyopia.

READ MORE - Beberapa Keanehan - Keanehan Saat Bayi Baru Lahir

Kehamilan merupakan masa-masa yang menyenangkan

Kehamilan merupakan masa-masa yang menyenangkan karena Anda akan segera menyambut kehadiran sang buah hati. Karena itu, untuk menjaga keselamatan janin Anda, ada baiknya lebih teliti dalam menangani semua gejala sekecil apapun yang Anda rasakan. Sebuah studi dari Erasmus MC University Medical Centre, di Belanda, menyatakan, ibu hamil yang mengalami komplikasi awal harus mendapatkan penangan yang lebih khusus, baik pada kehamilan sekarang maupun kehamilan berikutnya.

Masalah-masalah yang dialami pada 3 bulan pertama kehamilan, menurut peneliti, akan meningkatkan risiko melahirkan prematur serta kesulitan-kesulitan lainnya, baik pada kehamilan sekarang maupun kehamilan berikutnya. Data dari 75 studi menunjukkan, sejarah pernah mengalami keguguran berkaitan dengan melahirkan prematur pada kehamilan yang akan datang.

Kehamilan merupakan masa-masa yang menyenangkan

Dalam analisis yang dieresentasikan di pertemuan tahunan European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) ini, para peneliti melihat beberapa komplikasi yang umum dialami pada 3 bulan pertama kehamilan. Perdarahan pada minggu-minggu pertama kehamilan, misalnya, dinyatakan berkaitan dengan peningkatan risiko pre-eclampsia (hipertensi yang dipicu kehamilan), melahirkan prematur serta meningkatkan risiko hingga 2 kali lipat memiliki bayi dengan berat badan rendah atau sangat rendah. Selain itu, akumulasi darah pada kandungan juga bisa meningkatkan risiko-risiko lebih jauh.

Morning sickness (mual dan muntah) yang ekstrim di awal kehamilan juga berkaitan dengan risiko 3 kali lebih besar menjalani proses melahirkan prematur serta hampir 3 kali lipat meningkatkan risiko memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah. Sementara sejarah pernah mengalami sekali atau lebih keguguran, juga memiliki risiko hampir 2 kali lipat terus-menerus mengalami kehamilan dengan kerusakan membran yang mengelilingi bayi di rahim, sebelum waktunya. Hal ini akan meningkatkan risiko melahirkan prematur. Selain itu, jika kehamilan sebelumnya terpaksa diakhiri dengan alasan apapun, maka kehamilan-kehamilan berikutnya berisiko mendorong melahirkan prematur.

Meskipun studi tidak menyatakan penyebab peningkatan risiko pada kehamilan berikutnya, para ilmuwan menyatakan hal ini berkaitan dengan masalah-masalah kesehatan dan faktor gaya hidup.

Monitoring

Menurut pemimpin studi Dr Robbert van Oppenraaij, komplikasi-komplikasi pada masa yang akan datang berkaitan dengan tingkat keparahan dan pengulangan masalah-masalah yang muncul di awal kehamilan."Kejadian-kejadian dan komplikasi-komplikasi pada awal kehamilan merupakan komplikasi yang paling umum dialami perempuan selama masa kehamilan dan bisa menjadi pemicu stres pada perempuan tersebut," tutur Oppenraaij, seperti dikutip situs bbc.

Karena itu, terang dia, para dokter diharapkan bisa mengenali dan mengartikan gejala-gejala dan memahami tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi juga konsekuensi jangka panjang dari komplikasi-komplikasi pada awal kehamilan ini."Artinya, pasien-pasien ini harus dimonitor secara khusus," tegas Oppenraaij

READ MORE - Kehamilan merupakan masa-masa yang menyenangkan

Inilah Efek Psikologis Bila Bayi Menangis Terlalu lama

Terdapat berbagai pendapat mengenai cara orangtua menangani bayinya yang menangis. Sebagian ahli mengatakan, bayi yang dibiarkan menangis untuk membentuk pola tidur. Namun, sebagian lagi menolak pendapat itu.

Salah satu ahli yang menolak adalah Dr Penelope Leach, penulis buku Your Baby And Child: From Birth To Age Five. Dia berpendapat, bayi yang stres dan dibiarkan menangis berisiko mengalami masalah psikologis di kemudian hari.

Berbagai pendapat berbeda diungkap para ahli mengenai cara menangani bayi menangis. Orangtua sebaiknya jeli memilah yang terbaik bagi si kecil.

Penelope menegaskan, pendapatnya didukung dengan riset terbaru yang berhasil membuktikan bahwa bayi yang menangis berisiko mengganggu perkembangan otak dan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kesulitan belajar di kemudian hari.

Risiko Psikologis Bila Bayi Menangis Terlalu lama

"Ini bukan pendapat, tapi fakta bahwa membiarkan bayi menangis berdampak negatif. Sekarang kita tahu, mengapa itu berisiko," ujarnya seperti dikutip dari dailymail, pekan lalu.

Teori yang dikemukan Penelope bertentangan dengan kepercayaan populer dimasyarakat yang menyatakan bayi harus dibiarkan menangis sampai 20 menit. Beberapa pakar, termasuk Gina Ford, Penulis "The Contented Little Baby Book", menyarankan orangtua untuk membiarkan bayi menangis hingga pola tidur teratur dibentuk.

Penelope mengkritisi pendapat itu dengan menyatakan, bayi yang baru lahir tidak memiliki perkembangan mental yang memadai untuk belajar dan pergi tidur tepat waktu. "Bayi yang dibiarkan menangis nantinya bakala berhenti sendirinya, tetapi bukan karena dia belajar tidur sendiri melainkan karena dia kehausan dan meminta bantuan ibu," katanya.

Dia berujar, tangisan bayi yang berkelanjutan secara alami memicu produksi hormon kortisol, hormin penyebab stres. Selama tubuh memproduksi hormon tersebut, perkembangan otak si kecil bakal terganggu.

"Itu bukan bearti bayi tidak boleh menangis atau orang tua khawatir dan panik ketika si kecil menangis. Semua bayi menangis, sebagian bayi menangis lebih kencang ketimbang lainnya. Menangis tidak berdampak buruk pada bayi tetapi bayi yang menangis tapi dibiarkan itu yang salah," papar Penelope.

READ MORE - Inilah Efek Psikologis Bila Bayi Menangis Terlalu lama

Beginilah Cara Mengatasi Ketombe Si Kecil

Ketombe tidak hanya menyerang orang dewasa. Anak-anak juga bisa terserang ketombe. Sedikit berbeda, ketombe pada bayi bukan berupa sisik putih, melainkan lebih mirip kerak. Tak heran, jika orang lebih mengenalnya dengan sebutan kerak kepala atau kerak topi (cradle cap).

Adapun kebanyakan orang Jawa lebih sering menyebutnya dengan nama sawan. Kerak ini biasa muncul saat bayi berumur kurang dari tiga buIan.

Eddy Karta, dokter spesialis kulit dan kelamin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, menjelaskan, sawan terjadi karena masih tertinggalnya hormon androgen di tubuh si kecil. Hormon ini berasal dari plasenta ketika bayi masih di rahim.

Bila Kulit Kepala Si Kecil Penuh Ketombe

Androgen ini yang memicu terjadinya disfungsi atau gangguan fungsi kelenjar minyak (sebum) pada kepala bayi. Cradle cap biasanya didahului dengan sisik-sisik putih pada kulit kepala bayi. Karena sering terkena udara luar, sisik putih itu bisa menebal dan jadi kerak. "Tapi, seiring menurunnya kandungan androgen, kerak menipis dan berangsur mengelupas sendiri," kata Eddy.

Meski bisa hilang sendiri, bukan berarti Anda boleh membiarkan begitu saja. Karena kulit bayi sangat sensitif, kehadiran kerak bisa membuatnya gatal dan berujung ketidaknyamanan. Apalagi, jika dibiarkan terus, kerak pada bayi ini juga bisa mengganggu pertumbuhan rambut.

Untuk membersihkan ketombe pada bayi, para dokter tidak menyarankan Anda menggunakan sampo antiketombe bagi orang dewasa. "Gunakan produk untuk bayi dan sapukan sampo bayi dengan lembut menggunakan washlap," terang Eddy.

Jangan juga memaksa mencabut kerak dari kepala bayi karena dapat menyebabkan infeksi pada kulitnya. Agar lebih mudah dibersihkan, Anda bisa mengoleskan baby oil agar kerak yang menempel pada kulit kepala mudah dibersihkan ketika bersampo.

READ MORE - Beginilah Cara Mengatasi Ketombe Si Kecil

Menguak Misteri Hubungan Ibu hamil, Bayi Asma dan Kacang

Jika Anda kini tengah menantikan kelahiran si buah hati, sebaiknya mempertimbangkan saran untuk membatasi produk kacang. Menyusul studi terbaru mengungkap, wanita hamil yang mengonsumsi kacang secara berlebihan bisa meningkatkan risiko asma pada bayinya. 

Penelitian itu mempelajari mengenai pola makan sekitar 4.000 wanita hamil dan kesehatan anak yang dilahirkannya hingga berusia delapan tahun. 

Anak-anak yang didiagnosa dengan asma atau gejala menyerupai asma seperti napas yang pendek dan berbunyi, secara signifikan dilahirkan dari ibu yang banyak mengonsumsi produk kacang-kacangan seperti selai kacang setiap hari selama kehamilan, jika dibandingkan ibu yang jarang memakannya.

Menurut Saskia Willers yang memimpin penelitian yag dilakukan di University of Utrecht, Belanda, bayi cenderung terjangkit asma jika mereka dihadapkan dengan objek penyebab alergi dari kacang selama dalam kandungan.

Menguak Misteri Hubungan Ibu hamil, Bayi Asma dan Kacang

Inggris sebagai salah satu negara yang paling banyak penderita asma di seluruh dunia. Tercatat sekitar 1,1 juta anak-anak harus mendapatkan perawatan dari kondisi tersebut. Terutama ketika udara terhambat masuk ke dalam paru-paru, maka bernafas akan semakin sulit.

Sekitar 20 tahun terakhir, angka penderita asma di negara-negara berkembang telah bertambah dua kali lipat. Alasannya belum dapat dijelaskan, tapi para ahli percaya bahwa semakin banyaknya penggunaan antibiotik, perubahan lingkungan perumahan dan polusi merupakan faktor yang menentukan.

Dalam studi tersebut, tim peneliti bertanya kepada 4.146 ibu hamil mengenai pola makan mereka termasuk konsumsi buah-buahan, sayur mayur, ikan, telur, susu dan produk kacang-kacangan pada bulan-bulan terakhi kehamilan. Kemudian, mereka melanjutkan dengan meneliti kesehatan dari anak-anak yang dilahirkan.

Hingga penelitian berakhir, tim berhasil mengumpulkan catatan pola makan dan kesehatan dari 2.832 anak dan ibunya. Dari seluruh kelompok makanan yang dipelajari, hanya ibu-ibu yang mengonsumi kacang yang diasosiasikan memiliki anak yang terjangkit asma. Studi ini kemudian di laporkan pada American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.

Pada usia delapan tahun, anak yang ibunya mengonsumsi kacang dan produk turunnya seperti selai kacang per hari selama kehamilan tercatat 47% lebih berisiko asma. Dari jumlah tersebut 42% mengalami napas yang berbunyi, sisanya mengalami napas yang pendek.

"Penelitian kami menemukan bahwa konsumsi produk kacang-kacangan seperti selai kacang selama kehamilan dapat meningkatkan risiko gejala asma pada anak-anak usia 1-8 tahun, jika dibandingkan ibu hamil yang tidak mengonsumsinya," ujar Willers.

Dia menambahkan, bisa jadi penyebab alergi yang terkandung dalam kacang ditransfer pada bayi dalam kandungan, sehingga meningkatkan risiko sensitivitas sehingga bisa memperbesar kemungkinan untuk berkembang menjadi asma selama pertumbuhan anak.

Willers mengakui, saat ini belum tepat menyarankan para ibu hamil menghindari kacang dan produknya secara keseluruhan. 

"Mereka seharusnya tetap menerapkan pola makan sehat selama kehamilan karena dapat memberikan keuntungan pada janin. Tidak hanya mencegah alergi atau asma, namun juga risiko penyakit lain. Terlalu banyak mengonsumsi satu jenis makanan sangat tidak disarankan, mereka seharusnya mengubah kebiasaan tersebut," jelasnya.

READ MORE - Menguak Misteri Hubungan Ibu hamil, Bayi Asma dan Kacang

Fenomena Bayi Tewas Saat Tidur

Tak sedikit terjadi, bayi tewas saat tidur. Terutama dalam posisi tengkurap. Karena tak terduga, tindak pencegahannya pun nyaris mustahil.

Tak bisa dibayangkan bagaimana terpukulnya perasaan orang tua yang baru dikaruniai bayi yang tampak sehat dan normal namun mendadak menemukan bayinya dalam keadaan biru tak bernyawa di dalam boksnya. Apa, sih, yang sebenarnya terjadi pada bayi yang mengalami Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)?

Sebetulnya, bicara masalah kematian pada bayi, jelas dr. Bambang Supriyatno, Sp.A penyebabnya bisa karena tiga hal. Pertama, kematian karena adanya kelainan bawaan semisal bayi lahir dengan kelainan jantung dan paru-paru yang memungkinkan kejadian kematiannya diprediksi. Terlebih bila kelainan tersebut merupakan salah satu faktor risiko. Kedua, kematian karena penyakit yang didapat, semisal radang paru-paru atau pneumonia maupun akibat suatu kecelakaan yang didapat di rumah, di jalan, atau di mana pun.

Sementara kematian berikut yang lebih dikenal dengan istilah SIDS, agak sulit diprediksi. Sebab, kejadian kematian ini bersifat dadakan, hingga tak pernah bisa diperkirakan apa penyebabnya dan bagaimana mengantisipasinya.

Menurut spesialis anak dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, angka kejadian SIDS di Amerika cukup tinggi, meski tak ada angka pastinya. Sementara di Indonesia, data mengenai berapa banyak kasus kejadiannya malah tak diketahui. Hanya saja di beberapa negara, kejadian SIDS cenderung meningkat. Terutama pada bayi yang terbiasa tidur dengan posisi tengkurap. 


Sebetulnya, jelas Bambang, posisi tidur tengkurap bermanfaat untuk mencegah terjadinya aspirasi/tersedak. Yakni, masuknya cairan muntahan ke dalam paru-paru yang bisa membahayakan. Selain itu, baik pula untuk pergerakan otot pernapasannya.

"Tapi posisi tidur ini mesti dicermati bila bayi memiliki kelainan neurologis semisal pergerakan kepalanya susah." Meski tak ada batasan waktu yang baku, orang tua harus tetap mengawasi bila bayinya tidur dengan posisi ini sekalipun bayi punya insting untuk membebaskan diri. Artinya, jika napasnya susah, ia akan bergerak dengan sendirinya.

Sebenarnya, ujar Bambang, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kejadian SIDS. Di antaranya ;

Faktor Ibu

Selama masa kehamilan, faktor diri ibu sangat berpengaruh. Ibu yang merokok, minum minuman beralkohol, mengonsumsi obat-obatan secara bebas, berpeluang memperoleh bayi yang pertumbuhannya terganggu. Hal ini bisa menjadi risiko faktor penyebab terjadinya SIDS.

Kelahiran Prematur

Prematuritas juga bisa menjadi risiko terjadinya SIDS karena organ-organ tubuhnya yang belum matang dan sempurna. Demikian juga dengan sistem pernapasannya yang bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasannya. Sementara pada bayi yang tidak dilahirkan prematur, sistem pernapasannya mulai bagus/matang di usia 8 bulanan. Itu sebabnya kasus SIDS jarang dijumpai pada bayi atas usia 6 bulan.

Sulit Napas

Sesudah bayi lahir, ada kejadian yang dinamakan asfiksia. Yakni bayi mengalami kesulitan bernapas. Biasanya akan menampakkan gejala biru, susah bernapas, dan berkurangnya denyut jantung.

Disfungsi Pada Batang Otak

Usia terbanyak kejadian SIDS ditemui pada bayi usia 2-4 bulan. Sedangkan mayoritas atau 95 persen, dijumpai pada bayi di bawah 6 bulan. Penyebabnya, kemungkinan terjadi disfungsi atau gangguan pada batang otak. Gangguan ini mengakibatkan berubahnya pola pernapasan si bayi. Dalam bahasa Inggris istilahnya arousal, yang bisa digambarkan mirip orang yang kekurangan oksigen selagi tidur. Ini membuatnya gelagapan dan terbangun, tapi kemudian bisa tertidur lagi.

Nah, pada bayi, tingkat kewaspadaan inilah yang terganggu sementara ia tak mampu mengatasinya. Singkatnya, berawal dari fungsi otak yang terganggu/berkurang tanpa diketahui penyebabnya. Proses arousal-nya pun jadi kurang bagus yang diikuti dengan pola tidur dan kontrol kurang bagus serta pola pernapasannya juga tak baik. Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan gangguan/perubahan denyut jantung dan peningkatan suhu tubuh. Akibatnya, paru-parunya jadi kekurangan oksigen lalu menyebabkan gangguan berhenti napas.

Posisi Tidur Tengkurap

Kejadian SIDS akibat posisi tidur tengkurap ternyata sekitar 3 kali lebih besar dibanding posisi terlentang. Ini bisa dimengerti karena pergerakan kepala pada pada bayi usia 2 bulan mestinya sudah kuat. Sedangkan bayi dengan gangguan di otak umumnya tidak kuat mengangkat kepalanya. Akibatnya, posisi tidur tengkurap memperbesar kemungkinan terjadinya SIDS. Belum lagi faktor kasur yang sangat empuk atau lunak, yang menyebabkan kepalanya "terbenam" ke dalam kasur. Akibatnya, bayi kesulitan mengangkat kepalanya mencari udara bebas. Di lain pihak, sebetulnya kalau kondisi si bayi normal-normal saja (dalam arti tak ada dasar gangguan otak), maka posisi tidur tengkurap tak memicu terjadinya SIDS.

Sayangnya, ada-tidaknya gangguan atau kelainan pada batang otak bayi baru lahir, tidak mudah segera diketahui. Sementara dari hasil otopsi pada bayi-bayi di luar negeri yang mengalami SIDS, ternyata kejadian ini terutama terjadi pada bayi-bayi yang memiliki kelainan pada batang otak, pembengkakan pada paru-paru, dan perdarahan pada daerah sekitar dada. Semua itu dapat terjadi akibat kondisi asfiksia/kesulitan bernapas akibat hipoksia atau kekurangan oksigen dalam jangka waktu cukup lama dalam darahnya.

Dialami Ras Tertentu

Soal ras ternyata merupakan salah satu faktor munculnya kejadian SIDS yang banyak terjadi pada kalangan kulit hitam. Namun, tandas Bambang, itu kejadian di luar negeri, sedangkan di Indonesia belum ada penelitiannya.

Kurang Pengawasan

Bisa pula terjadi bayi tertutup selimut dalam keadaan tidur. Tentu saja risiko SIDS tetap terbuka, terlebih bila dibarengi dengan kurangnya pengawasan orang tua. Selama tetap diawasi dengan baik, menyelimuti bayi tak akan jadi masalah. Selain itu, pernah pula dilaporkan bayi mengalami SIDS karena hidung dan mulutnya tertutup payudara si ibu saat menyusui. Kemungkinan ini terjadi bila ibu menyusui bayinya sambil tiduran, tapi kemudian tertidur karena capek. Tertutupnya mulut dan hidung si bayi membuat bayi seperti dibekap.

Bedong Terlalu Kuat

Karena ingin anaknya merasa hangat, orang tua biasanya membedongnya kuat-kuat. Padahal, mestinya orang tua tahu, bayi bernapas menggunakan dada dan perut. Bayangkan, bayi yang dibebat kuat pasti napasnya kembang-kempis alias susah payah.

READ MORE - Fenomena Bayi Tewas Saat Tidur

Kenali Manfaat Positif Mendongeng Bagi Anak

Dua dari tiga anak berusia dini menginginkan lebih banyak waktu mendengar dongeng sebelum tidur. Hal ini dikatakan sejumlah peneliti di London, Inggris. Para peneliti di sana mengadakan studi yang menunjukkan anak kecil berusia tiga hingga empat tahun haus akan cerita sebelum tidur. Studi itu juga memperlihatkan lebih dari 75 persen anak ingin orangtua mereka yang membacakannya.


Psikolog anak, Richard Woolfson mengatakan tradisi membacakan dongeng sebelum tidur dinilai mempunyai efek kuat dalam perkembangan emosional anak. Berdasarkan hasil survei dari 500 anak berumur tiga sampai delapan tahun, ternyata mendengar dongeng sebelum tidur membantu mereka tidur lebih baik. Sampai saat ini kebiasaan ini menduduki peringkat yang lebih tinggi ketimbang kebiasaan menonton televisi dan bermain video games.

Pendongeng terbaik untuk anak adalah sang ibu. Woolfson mengatakan, seorang ibu biasanya menggunakan suara lucu dan unik ketika bercerita. Hal ini sangat membantu agar cerita tetap hidup dan anak pun dapat tidur nyenyak. Jika ibu atau ayah tidak bisa mendongeng, biasanya idola mereka-lah yang menjadi pengganti. Di London, lebih dari 30 persen anak mengaku ingin mendengar dongeng sebelum tidur dari idolanya. Sebut saja, idola remaja Zac Efron, Miley Cyrus, Emma Watson, dan pemeran Harry Potter, Daniel Radcliffe.

Pendongeng terbaik untuk anak adalah sang ibu. Psikolog anak, Richard Woolfson mengatakan tradisi membacakan dongeng sebelum tidur dinilai mempunyai efek kuat dalam perkembangan emosional anak. 

Woolfson mengakui, mungkin sulit bagi orangtua untuk mencari waktu bersama dengan anak. Tapi, ia yakin momentum seperti itulah memainkan peran penting dalam membentuk ikatan batin yang kuat antara orangtua dan anak. Jadi, mendongeng sebagai pengantar tidur sang upik bisa Anda mulai sekarang. Bagi para orangtua, saat ini kegiatan mendongeng untuk anak sudah sangat jarang dilakukan baik di saat menjelang tidur malam atau di waktu kapan pun. Hal ini disebabkan adanya faktor kesibukan orangtua. Tetapi tahukah Anda, kegiatan mendongeng ternyata memiliki banyak keuntungan bagi sang anak.

Mendongeng bukanlah sekedar kegiatan membacakan cerita pada anak Anda. Banyak muatan positif dari kegiatan ini, di antaranya :

Memberikan teladan

Anda dapat memberikan contoh sikap-sikap atau perbuatan terpuji dan menghindari sikap atau perbuatan yang buruk dari cerita yang dibacakan. Mendongeng adalah cara paling efektif untuk menanamkan gagasan atau pemikiran, nilai moral, budi pekerti serta konsep sebab akibat terutama pada anak.

Memotivasi anak 

Saat Anda membacakan atau menceritakan sebuah dongeng, biasanya sang anak berimajinasi sebagai tokoh jagoan yang berhasil memecahkan berbagai masalah. Atau bisa juga anak perempuan Anda berimajinasi menjadi seorang putri seperti dongeng yang Anda ceritakan padanya. Inilah kesempatan Anda untuk memotivasi sang anak melalui sebuah dongeng.

Mengajarkan berkomunikasi 

Untuk anak yang belum dapat berkomunikasi, Anda dapat merangsang kemampuan berkomunikasi verbal sang anak dengan cara membacakan dongeng atau cerita yang mudah dimengerti.

Meningkatkan kecerdasan anak 

Salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan anak ialah dengan mendongeng. Anak yang cerdas adalah anak yang mendapat stimulasi tepat sesuai dengan usianya, terutama pada usia keemasan atau golden ages (usia 0-5 tahun). Usia keemasan anak ialah masa keemasan pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga pada masa ini anak membutuhkan pendampingan dari sosok yang dapat terus memantau pertumbuhan dan perkembangannya. Serta membutuhkan seseorang yang mampu memberikan stimulasi optimal dengan penuh kasih sayang. Dan salah satu bentuk stimulasi untuk mencerdaskan anak ialah dengan mendongeng.

Sebelum Anda mulai bercerita, ada baiknya jika Anda terlebih dahulu memahami jenis cerita apa yang hendak disampaikan, sehingga Anda dapat bercerita sesuai dengan jenis ceritanya. Anda juga harus menyesuaikan cerita dengan tingkat usia anak, jumlah pendengar, tujuan penyampaian materi, situasi dan kondisi anak dan durasi waktu yang disampaikan.

READ MORE - Kenali Manfaat Positif Mendongeng Bagi Anak

Carilah istri yang cerdas, karena kecerdasan anak diturunkan dari ibu

Anak Cerdas Cendrung Dilahirkan Oleh Ibu Yang Pintar - Faktor genetik adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kecerdasan seseorang. Jika Anda ingin mempunyai anak yang cerdas, carilah seorang istri yang cerdas, karena ternyata kecerdasan anak diturunkan dari ibu.

Menurut neurolog sekaligus Kabid Pemeliharaan Peningkatan Intelegensia Kesehatan Depkes RI, Adre Mayza, SpK (K), dasar pembentukan intelegensia seseorang dipengaruhi oleh 3 hal yaitu nutrisi, stimulasi dan genetik atau keturunan. 

Meski tidak mempengaruhi seutuhnya, namun banyak juga anak yang terlahir cerdas dari orang tua yang cerdas. "Gen ibu lebih banyak berperan pada kecerdasan anak. Kalau anaknya cerdas, biasanya ibunya juga cerdas. Jadi kalau cari suami nggak perlu yang pintar-pintar amat, tapi kalau cari istri kalau bisa yang pintar," ujar Adre dalam acara Optimalisasi Peningkatan Intelegensia Otak di GKBI, Jakarta (10/9/2009).. 

Anak Cerdas Cendrung Dilahirkan Oleh Ibu Yang Pintar

Sebenarnya hubungan antara kecerdasan anak dengan ibunya bisa dilihat secara alamiah ketika ibu baru melahirkan. "Bayi bisa mencari puting susu ibunya sendiri, itu sudah jadi pertanda," ujar Adre. 

Bayi menangis jika mengompol juga bisa jadi pertanda bahwa kecerdaasn ada hubungannya dengan ibu. Hormon oxytocin dikeluarkan pada saat ngompol sama dengan hormon yang terdapat pada area kawanitaan ibu. "Itu mengapa jika daerah kewanitaan itu dirangsang, akan muncul perasaan enak dan senang, " tutur Adre. 

Oleh karena itu, memakai pampers biasanya membuat seorang anak tumbuh menjadi egois. "Bayi yang sering pakai pampers, cenderung memiliki rasa empati yang kurang karena jarang menangis dan bagian otaknya tidak terlatih untuk merasakan empati," tutur Adre. 

Otak setelah lahir memiliki kemampuan berkembang yang cepat. Penglihatan lebih dulu berkembang daripada pendengaran dan separuh perkembangan intelektual seseorang berlangsung di bawah usia 4 tahun. 

Adre mengatakan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia saat ini ada di urutan ke 109 dari 179 negara. "Artinya sudah miskin, bodoh, sakit, sombong pula," ujar Adre. Padahal sebentar lagi Indonesia akan memasuki tantangan milenium 3 yang merupakan era competitive intelligence. 

Oleh karena itu, ibu mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk perkembangan kecerdasan anak. "Stimulasi janin dengan musik-musik alam, binatang atau musik klasik, perbanyak konsumsi makanan yang mengandung omega 3 dan berikan stimulasi yang tepat ketika sudah lahir untuk menghasilkan anak yang cerdas," ujar Adre. 

Namun meskipun begitu, menurut Prof. Dr. Jalaludin Rahmat, pakar komunikasi dan penulis buku 'psikologi komunikasi', faktor genetik atau keturunan bisa dikalahkan oleh faktor lingkungan dan nutrisi. "Nurture atau lingkungan bisa mengalahkan nature atau warisan biologis jika otak terus distimulasi," jelas Jalaludin.

READ MORE - Carilah istri yang cerdas, karena kecerdasan anak diturunkan dari ibu

Anak bukanlah warga kelas dua dalam sistem kekeluargaan

Di antara tipe hubungan orang tua dengan anak, manakah yang menjadi pilihan kita untuk menerapkan disiplin? Apakah otoriter atau demokratis?

Dr Rose Mini A Prianto, MPsi, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menyarankan kita agar melakukan pendekatan demokratis saat mengenalkan displin pada anak. Bagi psikolog yang akrab disapa Bunda Mini ini, pendekatan demokratis lebih membentuk anak untuk bertanggung jawab atas setiap hal yang diperbuatnya karena anak bukanlah warga kelas dua dalam sistem kekeluargaan.

Anak dalam sistem kekeluargaan
Anak bukanlah warga kelas dua dalam sistem kekeluargaan

“Proses negosiasi yang terjadi di awal, membuat mereka bisa menciptakan sistem ‘alarm’ sendiri,” paparnya. Negosiasi yang dimaksud Mini adalah orang tua dan anak sama-sama mendefinisikan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Bantu anak dengan memberi gambaran bahwa sesuatu yang tidak boleh dilakukan itu diterapkan karena merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Dari sinilah anak mengerti konsep menghargai keberadaan orang lain.

Setelah itu, lanjut Mini, diskusikan juga konsekuensi apa yang akan dilakukan ketika anak tidak berpegang pada komitmen bersama. “Disebut konsekuensi karena anak sudah diberi tahu aturannya dari awal. Jadi tidak hukuman satu arah,” jelasnya. 

Adapun pilihan konsekuensi yang dapat ditawarkan adalah membatasi interaksinya pada hal-hal yang disukai. Dengan demikian anak semakin mengerti mengapa dirinya harus lebih peka mendengar "alarm" yang sudah disepakati bersama. ( preventionindonesia.com )

READ MORE - Anak bukanlah warga kelas dua dalam sistem kekeluargaan