Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Gigi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Gigi. Tampilkan semua postingan

Inilah Hubungan Kesehatan Gigi dengan Penyakit Pikun

Tolak Pikun Dengan Menjaga Kesehatan Gigi - Menjaga kebersihan gigi berkaitan erat dengan pikun saat memasuki usia tua. Orang yang memiliki kesehatan gigi dan gusi buruk ada kemungkinan 3 kali lebih besar mengalami pikun.

Kesehatan gigi berpengaruh pada pencegahan kepikunan

Ilmuwan dari Columbia University, New York memeriksa kadar bakteri Porphyromonas gingivalis pada 2300 pria dan wanita yang berumur lebih dari 60 tahun.

Bakteri tersebut adalah penyebab periodontitis yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan periodontal termasuk gusi dan tulang, hingga lama kelamaan gigi menjadi goyang. Subyek penelitian juga menjalani serangkaian memory test.

Kesehatan Gigi

Hasilnya, pria dan wanita dengan kadar bakteri penyebab penyakit gusi tertinggi memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar untuk melupakan urut-urutan kata pada memory test yang sederhana. Subyek yang sama juga mengalami kesulitan untuk mengingat urutan angka-angka.

Meski masih berupa penelitian awal, ilmuwan yakin bahwa makin banyak bukti-bukti yang mengarah kepada adanya hubungan erat antara kesehatan gigi yang buruk dengan kepikunan (dementia).

Bagaimana mekanismenya belum diketahui dengan pasti. Penjelasan adalah bakteri yang menginfeksi jaringan periodontal itu juga dapat merusak arteri, dan telah diketahui bahwa kerusakan pembuluh arteri dapat mengarah kepada dementia, dan juga peradangan yang dikaitkan dengan penyakit otak lain seperti Alzheimer.

Para ahli dari Inggris ternyata memiliki pendapat lain. Mereka mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan di Amerika tersebut memang menarik namun tidak lantas membuktikan bahwa kesehatan gigi yang buruk dapat mempengaruhi masalah ingatan.

Sebaliknya, mungkin saja orang lansia semakin kurang peduli terhadap kesehatan giginya dan jarang menyikat gigi seiring dengan makin menurunnya ketajaman pikiran akibat penuaan

READ MORE - Inilah Hubungan Kesehatan Gigi dengan Penyakit Pikun

Beginilah Cara Membersihkan Gigi Balita

Jangan sepelekan masalah kebersihan gigi balita Anda. Meskipun si kecil masih memiliki gigi susu tetapi kesehatannya harus selalu dijaga.

Karena, kondisi gigi susu sangat menentukan pertumbuhan gigi permanennya. Jika anak Anda usianya kurang dari dua tahun, gunakan kain lembut atau kassa untuk membersihkan gigi dan gusinya. Caranya, sterilkan kain atau kassa lembut yang akan Anda gunakan untuk membersihkan mulutnya, dengan merendamnya di air mendidih.

Gigi Balita

Lalu, diamkan kain hingga tidak terlalu panas. Balut kain di jari telunjuk Anda, pastikan tangan dalam keadaan bersih. Kemudian dengan menggunakan telunjuk, bersihkan gigi, gusi, langit-langit dan keseluruhan mulutnya.

Jangan panik atau berhenti membersihkan mulutnya, jika si kecil memberontak. Hal itu terjadi karena ia belum terbiasa. Bersihkan hingga mulutnya benar-benar bersih. Bilaslah kembali dengan menggunakan kain atau kassa yang baru dan bersih yang sudah dicelupkan ke air hangat dan matang. 

Perkenalkan juga buah hati dengan sikat gigi sejak kecil. Anda bisa membelikan sikat gigi berbentuk lucu agar ia menyukainya. Pilihlah yang berbulu lembut dengan kepala sikat kecil yang cocok untuk mulutnya.

Untuk anak usia dua tahun ke atas, sudah bisa menggunakan pasta gigi. Tetapi pastikan dulu si kecil sudah bisa berkumur. Hal itu karena kandungan fluoride pada pasti gigi, akan sangat berbahaya jika tertelan. Pilihlah pasta gigi khusus anak yang kadar fluoridenya rendah.

Selalu temani anak saat ia menyikat gigi. Ajarkan bagaimana menyikat gigi yang baik dan berkumur dengan benar. Hal itu sangat penting untuk membentuk kesadaran akan pentingya menjaga kesehatan gigi dan mulut.

READ MORE - Beginilah Cara Membersihkan Gigi Balita

Inilah Cara Sehat Merawat Gigi

Perawatan gigi adalah upaya yang dilakukan agar gigi tetap sehat dan dapat menjalankan fungsinya. Gigi yang sehat adalah gigi yang bersih tanpa adanya lubang.

Namun tidak hanya itu, gigi yang sehat juga akan memancarkan energi positif sehingga si Pemiliknya menjadi sangat menarik.

Begitu pentingnya gigi bagi manusia sehingga gigi perlu dirawat dengan benar. Berikut pentingnya gigi dirawat, antara lain:

  • Gigi merupakan salah satu organ penting pencernaan. Gigi digunakan untuk mengunyah makanan sebelum masuk ke saluran pencernaan. Jika gigi mengalami gangguan, akan terganggu pula proses pencernaannya.
  • Gigi yang bermasalah dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Gigi yang tidak terawat sehingga terkena infeksi dapat menimbulkan penyakit yang lainnya, seperti : Penyakit jantung dan pembuluh darah 
paru
gula
stroke
kanker
  • Sisa makanan yang masih ada di gigi menyebabkan aktivitas bakteri berlebihan sehingga mulut mengeluarkan bau yang kurang sedap.
  • Gigi juga berfungsi sebagai keindahan. Gigi adalah komponen lain dalam kecantikan selain kulit tubuh, kulit wajah, mata, bibir, dll. Oleh karena itu, setiap orang ingin punya senyum memikat dengan gigi yang sehat.
Cara-cara Perawatan Gigi

Merawat gigi perlu dilakukan sedini mungkin. Langkah-langkah yang dilakukan dalam merawat gigi adalah sebagai berikut:

  • Gosok gigi minimal 2 kali sehari.
  • Ganti sikat gigi 3-4 bulan sekali. Pilih sikat gigi yang bulunya lembut dengan kepala sikat yang dapat menjangkau semua bagian gigi.
  • Jangan lupa sikat lidah, yang merupakan tempat berkumpulnya bakteri yang dapat menyebabkan bau mulut.
  • Gunakan pasta gigi yang mencantumkan ADA untuk memastikan kandungan fluoride cukup untuk mencegah lubang dan kerusakan gigi.
  • Gunakan obat kumur.
  • Benang gigi, pengunaan benang gigi sekali sehari dianjurkan untuk mengangkat plak yang tidak dapat disentuh sikat gigi dan obat kumur.
  • Permen karet tanpa gula, mengunyah permen karet tanpa gula dapat meningkatkan aliran air liur yang dapat membersihkan partikel makanan dan asam penyebab kerusakan gigi.
  • Hindari makanan yang banyak mengandung gula dan manis, seperti sirup, permen, dan cokelat.
  • Minum air setelah makan.
  • Biasakanlah untuk makan buah-buahan segar. Selain baik untuk kesehatan, seratnya dapat membantu menghilangkan kotoran yang ada di gigi.
  • Makanlah makanan yang seimbang dan kaya kalsium, seperti susu, keju, telur, teri, bayam, katuk, sawi, dan agar-agar.
Konsultasi ke Dokter Gigi

Pada kenyataannya, perawatan gigi yang dilakukan secara personal (menyikat gigi dll.) tidaklah cukup. Gigi juga memerlukan perawatan secara profesional, terlebih pada gigi sensitif atau gigi yang telah terlanjur mengalami kerusakan, misalnya, gigi berlubang.

  • Periksa setiap 6 bulan sekali. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk memeriksakan gigi ke dokter gigi secara teratur setiap 6 bulan sekali. Konsultasi ke dokter gigi diperlukan untuk mendapatkan tahap-tahap perawatan gigi, terutama pada gigi yang bermasalah.
  • Patuhi jadwal perawatan. Jika gigi bermasalah, jangan lupa untuk menanyakan kepada dokter akibat yang mungkin timbul dari tindakan yang dilakukan dokter gigi. Patuhi jadwal perawatan. Jangan ke dokter gigi hanya ketika merasa sakit gigi karena keterlambatan penanganan dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius lagi.

READ MORE - Inilah Cara Sehat Merawat Gigi

Mitos Radang Gusi Pada Wanita Hamil

Wanita Hamil Rawan Radang Gusi. Cegah penyakit gigi dan mulut yang bisa mempengaruhi kondisi janin pada ibu hamil dengan menyikat gigi teratur, konumsi makanan bergizi dan minum cukup air.

Masa kehamilan memberikan banyak perubahan pada ibu. Bila tidak ditangani dengan tepat, bisa berimbas negatif bagi kesehatan ibu dan anak yang dikandungnya. Sebagai contoh, morning sickness atau gejala muntah dan mual pada pagi hari di awal kehamilan, atau kelainan di rongga mulut, mulai dari yang ringan sampai terberat.
Ahli Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Rumah Sakit Mitra Keluarga, Boy Abidin mengatakan, pada masa kehamilan terjadi perubahan secara menyeluruh pada tubuh perempuan, mulai dari gejala hormonal, perubahan saluran pencernaan dan perubahan fisik.

Dia mencontohkan, perubahan hormonal pada mulut dan gigi Ibu saat hamil menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan peningkatan reaksi inflamasi (peradangan) pada gusi (gingiva). Reaksi peradangan ini ditandai dengan perubahan warna gusi menjadi lebih merah, mudah berdarah, dan gusi membengkak (hiperplasi gingiva). Kelainan ini disebut dengan istilah Pregnancy Gingivitis atau radang gusi selama kehamilan.

Ironisnya, kelainan mulut dan gusi kerap diacuhkan perempuan yang sedang menjalani masa kehamilan. Padahal Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) mencatat radang gusi merupakan masalah mulut dan gigi yang sering menimpa ibu hamil dimana 5%-10%nya mengalami pembengkakan gusi.

Catatan PDGI diperkuat temuan Journal of Periodontology yang diterbitkan tahun 1996. Riset itu mencatat 7 dari 10 perempuan hamil yang menderita radang gusi berpotensi besar memiliki anak yang lahir secara prematur. Data tersebut diperkuat Survei Kesehatan Nasional tahun 2002 yang menyebutkan bahwa 77% dari ibu hamil yang menderita radang gusi melahirkan bayi secara prematur

"Sayangnya permasalahan gigi dan gusi di masyarakat cenderung tidak diperhatikan, termasuk penyakit radang gusi saat kehamilan berlangsung. Kalau belum bermasalah malas ke dokter, tapi ketika sudah ketahuan penyakitnya baru deh ke dokter," tukas Boy dalam acara "Gusi Terawat Untuk Janin Sehat" yang digagas pepsodent di Jakarta, baru-baru ini.

Selain masalah hormonal, penyebab utama radang gusi pada saat hamil adalah bakteri plak. Plak merupakan suatu lapisan bahan organik yang melekat pada permukaan gigi disertai koloni bakteri. Plak akan selalu terbentuk bahkan sesaat setelah pembersihan gigi. Kalau dibiarkan dalam waktu yang lama, plak tidak hanya menyebabkan gingivitis, tetapi juga gigi berlubang (karies).

Pada gigi yang tidak terawat, 1 gram plak mengandung 10 miliar bakteri berbahaya. Sebelum bakteri menyebabkan gigi berlubang, ribuan bakteri menuju saluran pencernaan. Bakteri-bakteri yang berupa toksin dengan mudah masuk ke saluran genital melalui pembuluh darah dan terjadilah infeksi bakteri.

Infeksi ini menimbulkan peradangan di dalam saluran rahim. Zat yang dihasilkan, berupa liposakarida, akan menyebar ke dalam rongga rahim. Bakteri-bakteri lalu berinteraksi pada membran plasenta, yang kemudian menimbulkan kontraksi otot rahim dan pelebaran leher rahim, sehingga bakteri yang masuk lebih banyak dan akan terus berlanjut.

Adanya intervensi bakteri selama kehamilan dapat menimbulkan gangguan dalam pematangan leher rahim, pengaturan kontraksi rahim dan pengiriman nutrisi ke janin serta hormon yang mengatur kehamilan. Hal ini memungkinkan robeknya membran plasenta sebelum waktunya.

Akibatnya, bayi lahir prematur dan berat badannya saat lahir sangat rendah.Oleh karena itu, Boy menyarankan, saat merencanakan kehamilan, ada baiknya ibu melakukan perawatan mulut dan gigi. Dengan cara itu, ibu bisa menghindarkan diri dari kelahiran bayi secara prematur.

Mitos


Permasalahan radang gusi saat hamil tidak terlepas dari keberadaan mitos kehamilan. Tidak ada salahnya mempercayai mitos-mitos yang beredar di masyarakat tentang kehamilan asalkan tidak berbahaya bagi janin yang anda kandung. Namun, adakalanya mitos-mitos yang beredar ternyata berbahaya bagi kandungan anda jika di ikuti.

Sebab itu, permasalahan radang gusi saat hamil sebaiknya disikapi dengan sikap proaktif dari ibu untuk mengkonfirmasikan persoalan mitos kepada dokter atau referensi buku yang dapat dipercaya, sehingga dapat diketahui kebenarannya dan tidak hanya mengikuti sesuatu yang anda sendiri tidak mengetahui alasannya.

"Pernah ada pasien yang bilang ke saya untuk tidak mencabut gigi, dengan alasan nanti anaknya tidak bisa tumbuh normal. Mitos-mitos macam ini yang harusnya disingkirkan," tukas Boy.

Setidaknya ada 5 mitos yang disebut Boy tidak benar, yakni, mitos yang mengatakan ibu hami tidak boleh cabut gigi, Ibu hamil yang tidak boleh rawat gigi, ibu hamil yang tidak boleh gunakan pasta gigi, ibu hamil tidak boleh minum antibiotika dan rontgen gigi.

Maka dari itu, Boy menghimbau para ibu agar tidak perlu takut mengunjungi dokter gigi walaupun pada trimester pertama saat proses pembentukan janin atau memasuki trimester terakhir di mana perut sudah membesar. Termasuk bila diharuskan melakukan rontgen.

"Jika memang diperlukan dilakukan rontgen maka tak jadi soal, hal ini boleh dilakukan dan tidak akan membahayakan dengan catatan hanya sebatas mulut. Konsumsi obat-obatan antibiotik pun tak masalah, karena dokter dapat memberikan obat dengan dosis ringan yang aman bagi janin," tegasnya.

Ciptakan Kebiasaan


Penyakit radang gusi erat kaitan dengan masalah kebiasaan untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi. Sayangnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kebiasaan terburuk untuk masalah perawatan mulut dan gigi.

Celakanya, data Persatuan Dokter Gigi Indonesia mencatat prevalensi radang gusi diseluruh dunia mencapai 75-90%. Data tersebut didukung pula dengan temuan riset yang dilakukan Rumah Sakit Gigi Universitas Moestopo Beragama mencatat hanya sekitar 0.44% dari 277 pasien yang diteliti terhitung merawat gigi, sementara 2.69% mengalami pendarahan gigi, 71.37% terkena karang gigi, 22.91% mengalami penurunan gusi (4-5 mm) dan 2.64% mengalami penurunan gusi hingga lebih dari 6 mm.

Ahli Gigi dari Klinik Matra Medika, Yulia Rachma mengatakan penyakit radang gusi umumnya sudah diketahui masyarakat tapi kurang diperhatikan. Terlebih, perkembangan penyakit radang gusi cenderung berjalan lambat. Akibatnya, masyarakat cenderung berpikir persoalan radang gusi merupakan hal sepele.

"Bila radang gusi tidak ditangani, maka akan memburuk menjadi peridontitis dimana infeksi sudah menjalar ke jaringan pendukung gigi lain. Bila tidak ditangani maka bakteri bisa masuik ke pembuluh darah dan menyebabkan penyakit lain seperti stroke, diabetes, jantung dan pada ibu hamil menyebabkan bayi terlahir prematur atau berat tubuh yang kurang, "tegasnya.

Sebab itu, tambahnya, kebiasaan untuk melakukan perawatan gigi dan mulut harus digalakan. "Meski terlihat sepele, hanya dengan merawat gigi dan mulut bisa mencegah timbulnya penyakit," tukasnya.

"Diawal, cobalah sikat gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari, konsumsi makanan bergizi, hindari rokok, minum cukup air, lakukan pemeriksaan gigi secara rutin dan hindari makanan yang terlalu panas, dingin atau yang manis-manis," pungkasnya. ( republika.co.id )

READ MORE - Mitos Radang Gusi Pada Wanita Hamil

Inilah Bahaya Sariawan Bagi Tubuh

Sariawan merupakan suatu kelainan pada selaput lendir mulut, yang ditandai adanya bercak luka berwarna putih pada dinding mulut atau bibir. Meski kecil dan letaknya tersembunyi di rongga mulut namun sariawan bisa menimbulkan rasa nyeri hebat.

Menurut drg. Ratu Mirah Afifah, GCCLindent, MDSc, staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung, di dalam rongga mulut banyak terdapat bakteri dan jamur yang bisa menyebabkan sariawan.

Sariawan juga bisa disebabkan karena gangguan keseimbangan tubuh akibat stres, kurang vitamin C, kurang tidur. Faktor lain yang menyebabkan sariawan antara lain kesalahan menggosok gigi, apalagi jika menggosoknya serampangan dan tak hati-hati. Luka di seputar mulut akibat tergigit atau terjatuh juga bisa menyebabkan infeksi dalam bentuk sariawan.

"Pemakaian gigi palsu atau kawat gigi yang tidak pas juga akan membuat jaringan lunak teriritasi sehingga timbul sariawan," papar Ratu. Sebatang rokok juga bisa merusak vitamin C yang ada dalam tubuh, akibatnya seorang perokok lebih mudah terkena sariawan.

Sariawan yang disebabkan oleh faktor lokal infeksi biasanya akan sembuh dalam waktu dua minggu. Akan tetapi, bila luka mirip sariawan tetap menetap hingga berbulan-bulan, bisa jadi itu merupakan tanda penyakit serius, seperti HIV/AIDS atau kanker mulut. "Penyakit gangguan kekebalan tubuh seperti HIV bisa menyebabkan tubuh mudah terserang infeksi, terutama luka dalam mulut," kata Ratu.

Karena itu bila Anda mengidap penyakit sariawan yang tak kunjung sembuh, segeralah berkonsultasi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Ada beberapa cara yang bisa mencegah sariawan, misalnya makan dengan tenang agar bibir atau lidah tidak tergigit. Luka di kedua tempat itu lambat penyembuhannya sehingga mudah terkena infeksi bakteri atau kuman di mulut. Pastikan gigi dan mulut selalu terawat, berkumurlah dengan antiseptik jika ada gangguan sariawan, serta hindari stres.

Perbanyak pula sayuran dan buah-buahan karena banyak mengandung vitamin C, B2, B5, dan asam folat yang sangat bermanfaat mencegah sariawan. [ kompas.com ]

READ MORE - Inilah Bahaya Sariawan Bagi Tubuh

Pilihlah Waktu Yang Tepat Kalau Memasang Kawat Gigi

Salah satu perawatan yang bisa dilakukan untuk merapikan gigi adalah menggunakan kawat gigi. Tapi kapan sebenarnya seseorang membutuhkan kawat gigi?

Penggunaan kawat gigi biasanya cukup sederhana tanpa menggunakan jarum, bius atau pengeboran gigi. Kawat gigi bisa digunakan pada usia berapapun, namun usia yang ideal untuk menggunakan kawat gigi adalah usia 10-14 tahun.

Seperti diberitakan dari Livestrong, Selasa (9/11/2010) sebelum menggunakan kawat gigi dokter akan melakukan pemeriksaan untuk menentukan seberapa banyak ruang yang tersedia untuk kawat gigi, lokasi gigi yang perlu diluruskan dan untuk melihat kondisi kesehatan gigi seperti apakah ada gigi berlubang atau tidak.

Ada beberapa alasan yang membuat seseorang membutuhkan bantuan kawat gigi, seperti karena ada kebutuhan untuk memperbaiki lokasi gigi atau gangguan ortodontis hingga kebutuhan kosmetika sehingga terlihat lebih cantik saat tersenyum. Namun umumnya orang memerlukan kawat gigi karena:
  • Untuk meluruskan gigi. Bentuk gigi yang bengkok atau tidak sejajar bisa menyebabkan masalah dalam hal proses menggigit, mengunyah dan memproses makanan. Kondisi ini memiliki kemungkinan menyebabkan sakit kepala dan sakit Untuk membetulkan kondisi saat menggigit. Misalnya jika posisi rahang atas gigi terlalu jauh ke depan atau gigi bawah yang terlalu ke dalam, sehingga memiliki posisi menggigit yang tidak pas. Kondisi ini akan mengakibatkan ketegangan di rahang dan membuat seseorang menggigit dengan tidak benar. Selain itu pada kondisi tertentu bisa menyebabkan kerusakan tulang.
  • Agar bisa mengunyah makanan lebih baik. Jika posisi gigi tidak benar, maka makanan yang masuk tidak akan terkunyah dengan baik yang nantinya dapat memicu gangguan di perut.
  • Adanya masalah pada pernapasan. Jika terjadi perubahan dalam struktur gigi maka bisa memicu perubahan mulut. Jika gigi tidak lurus dan selaras, maka akan menyebabkan gangguan pernapasan.
Selain itu ada juga orang yang menggunakan kawat gigi untuk alasan kosmetik, padahal tidak benar-benar membutuhkannya. Alasan ini biasanya agar seseorang memiliki senyuman yang indah serta bentuk gigi yang sempurna.

Kawat gigi digunakan untuk membantu memperbaiki penampilan gigi yang berantakan. Alat ini bisa digunakan oleh anak-anak maupun orang dewasa. Lalu bagaimana cara kerja kawat gigi ini?

Kawat gigi membantu gigi agar bisa tumbuh sesuai dengan tempatnya atau dalam posisi lurus serta memperbaiki posisi gigi yang kurang tepat.

Beberapa kawat gigi ada yang menggunakan kawat baja atau brackets, sedangkan yang lebih moderen lagi menggunakan perangkat yang bisa diubah dengan bahan plastik.

Kawat gigi bisa membantu mencegah tumbuhnya gigi di posisi yang salah. Gigi yang salah posisi dapat mempengaruhi gusi, karena nantinya gusi akan menjadi lemah sehingga gigi menjadi mudah copot.

Kawat gigi juga berguna untuk memperbaiki pengucapan seseorang yang terhambat karena kondisi gigi yang salah, mengurangi sakit pada rahang akibat kondisi gigi yang buruk serta untuk merapikan gigi.

Saat kunjungan pertama, dokter akan melakukan pemeriksaan X-ray untuk memeriksa dan mencari lokasi yang tepat dari gigi, struktur tulang dan bagaimana ruang yang ada antar gigi.

Nantinya kawat yang diberikan akan mendorong gigi ke arah yang sebenarnya. Karena kawat akan bertindak sebagai kompresor yang memberikan penekanan pada gigi sehingga terjadi resorpsi tulang.

Setelah kawat gigi direkatkan ke gigi, maka sistem kabel lengkungan dan karet akan memindahkan gigi ke posisinya. Hal ini terjadi sebagai peregangan lembut dan tekanan yang stabil dari membran periodontal pada satu sisi gigi dan menekan gigi yang lainnya.

Perubahan dalam membran periodontal menyebabkan gigi tidak menempel di posisinya. Namun kawat dan karet yang ada tetap memberikan tekanan pada gigi, sehingga tulang akan tumbuh untuk mendukung gigi ke posisi yang benar.

Seperti diberitakan dari Livestrong, perubahan tekanan yang diberikan oleh kawat dan karet akan memberikan pengaruh terhadap osteoclast dan osteoblast yang berfungsi membentuk tulang pada gigi.

Ketika kabel yang melengkung dan karet yang memberikan tekanan bekerja pada gigi, maka akan mengendurkan membran periodontal dan memungkinkan osteoclast untuk memindahkan gigi di rahang.

Saat gigi sudah berada di posisi yang baru, maka osteoblast akan membangun tulang untuk menstabilkan gigi dan memastikan gigi berada di posisi yang benar.

Hal ini tidak hanya membuat gigi berada di tempat yang tepat, tapi juga membuat struktur tulang lebih padat serta merapikan gigi.

Terdapat beberapa alasan yang membuat seseorang harus menggunakan kawat gigi yaitu bentuk gigi bengkok, gangguan pernapasan, adanya ruang antar gigi, gigi yang tumbuhnya bertumpuk (overcrowding) dan juga overbite. ( suaramedia.com )

READ MORE - Pilihlah Waktu Yang Tepat Kalau Memasang Kawat Gigi

Biginilah Cara Yang Benar Menyikat Gigi

Cara Yang Benar Menyikat Gigi. Dari penelitian Kesehatan Dasar (Indonesia Basic Health Research) 2007 bahwa di Indonesia, 91,1% orang menggosok gigi setiap hari, namun hanya 7,3% dari keseluruhan yang mengikuti petunjuk untuk menggosok gigi pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.

Tidak dipraktekannya menyikat gigi dengan benar menimbulkan kasus gigi berlubang yang jumlahnya masih sangat tinggi di Indonesia. Faktanya, 72,1 % penduduk Indonesia memiliki masalah gigi berlubang dan 46,5 % diantaranya tidak merawat gigi berlubang. Hal tersebut tentu akan berdampak negatif bukan hanya pada kesehatan gigi dan mulut tetapi juga kesahtan tubuh secara keseluruhan.

Efek dari gigi berlubang antara lain masuknya bakteri pada lubang gigi yang menimbulkan rasa sakit yang luar biasa dan bau mulut. Selain itu, jika lubang gigi sudah dalam keadaan kronis makan bisa berefek pada kesehatan organ tubuh lainnya seperti jantung dan otak. Untuk itu, mulai sekarang biasakan sikat gigi setelah makan, jangan biarkan sisa makanan menempel dalam waktu lama di gigi Anda karena akan memicu lubang (karies) pada gigi.

Yang perlu Anda tahu, terdapat beberapa cara berbeda dalam menggosok gigi.

- Pertama,


sebaiknya gerakan menyikat gigi jangan terlalu cepat dan keras, karena dapat merusak jaringan gusi dan lapisan gigi.

- Kedua

menyikat gigi harus dilakukan secara sistematis, tidak ada sisa makanan tertinggal. Simak gerakannya yang benar:

a. Gerakan vertikal. Arah gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan rahang atas dan bawah tertutup. Lalu, lanjutkan dengan gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan mulut terbuka.
b. Gerakan horizontal. Arah gerakan menggosok gigi ke depan ke belakang dari permukaan bukal dan lingual (permukaan gigi yang menghadap ke pipi). Gerakan menggosok pada bidang kunyah dikenal sebagai scrub brush. Caranya mudah dilakukan dan sesuai dengan bentuk anatomi permukaan kunyah. Kombinasi gerakan vertikal-horizontal, bila dilakukan harus sangat hati-hati karena dapat menyebabkan resesi gusi atau abrasi lapisan gigi.
c. Gerakan memutar. Cara ini, gerakannya sederhana, paling dianjurkan, efisien dan menjangkau semua bagian mulut. Bulu sikat ditempatkan pada permukaan gusi, jauh dari permukaan bidang kunyah, ujung bulu sikat mengarah ke ujung akar, gerakan perlahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang kepala sikat bergerak dalam lengkungan.
Pada waktu bulu-bulu sikat melalui mahkota gigi, kedudukannya hampir tegak terhadap permukaan email. Ulangi gerakan ini sampai lebih kurang 12 kali sehingga tidak ada yang terlewat. Cara ini dapat menghasilkan pemijatan gusi dan membersihan sisa makanan di daerah antara gigi. [ vivanews.com ]

READ MORE - Biginilah Cara Yang Benar Menyikat Gigi