Tampilkan postingan dengan label No Smoking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label No Smoking. Tampilkan semua postingan

Sebetulnya Merokok Bukanlah Hak Asasi Tapi Hanya Kebutuhan Seseorang Saja

Selama ini setiap ada larangan merokok, maka para perokok selalu berdalih bahwa merokok adalah hak asasi manusianya. Padahal merokok bukanlah hak asasi tapi hanya kebutuhan seseorang saja.

"Hak asasi manusia adalah sesuatu yang jika tidak terpenuhi bisa mengancam jiwa, tapi kalau merokok jika tidak terpenuhi tidak akan mengancam jiwanya. Jadi merokok bukanlah hak asasi," ujar dr Hakim Sorimuda Pohan, SpOG dalam acara diskusi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) 'Mengembalikan Arah Kebijakan Pengendalian Tembakau yang Pro Kesehatan Masyarakat' di sekretariat IDI, Jl dr Sam Ratulangi, Jakarta, Rabu (29/12/2010).

Merokok Bukanlah Hak Asasi Tapi Hanya Kebutuhan Seseorang Saja


dr Hakim menuturkan salah satu contoh hak asasi adalah makan, jika seseorang tidak makan maka ia bisa meninggal. Sedangkan jika ada orang yang harus menggunakan minyak rambut untuk meningkatkan kepercayaan diri, maka hal tersebut adalah kebutuhan dan bukan hak asasi manusia.

"Selain itu menghirup lingkungan yang sehat dan bersih adalah salah satu hak asasi yang ada di dalam UUD'45. Karena asap rokok bisa mengganggu kesehatan dan kemanusiaan, jadi orang yang merokok tanpa menghormati tata cara merokok yang benar berarti ia orang yang tidak beradab," ungkapnya.

Merokok adalah salah satu kebiasaan yang bisa membahayakan diri sendiri, lingkungan dan menyebabkan ketagihan, sehingga diperlukan aturan tersendiri untuk mengatur tata cara merokok.

Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2008, Indonesia merupakan negara pengguna rokok terbesar ketiga setelah China dan juga India. Dan berdasarkan survei AC Nielsen tahun 2009 diketahui produksi rokok di Indonesia sebesar 260 miliar batang rokok, sedangkan tahun 1970 produksinya hanya sebesar 35 miliar batang rokok.

"Kita tidak akan melarang orang yang sudah kecanduan rokok untuk berhenti, karena mereka sebenarnya sudah dewasa. Kalau kita sudah beri peringatan dan penyuluhan tapi ia tetap tidak mau berhenti, maka itu adalah cara kematian yang ia pilih sendiri," ujar dr Hakim yang merupakan mantan anggota DPR Komisi IX.

dr Hakim menuturkan ada tiga jenis kematian, yaitu:
  1. Kematian yang tidak bisa dicegah (unpreventable death), misalnya jika seseorang yang sudah berusia di atas 90 tahun dan mengalami beberapa kali stroke, maka kematian yang terjadi sudah tidak bisa dicegah.
  2. Kematian yang bisa dicegah (preventable death), misalnya jika ada kecelakaan dan lambat mendapatkan pertolongan maka kematian yang terjadi sebenarnya bisa dicegah. Jenis kematian ini juga termasuk akibat merokok, karena kematian akibat rokok sebenarnya bisa dicegah jika seseorang berhenti mengonsumsi rokok.
  3. Kematian yang kemungkinan bisa dicegah (probably preventable death), misalnya ada anak muda yang ugal-ugalan, mengebut lalu mengalami kecelakaan yang menyebabkan kondisi parah, maka kematian yang terjadi kemungkinan bisa dicegah.
"Selama ini diketahui bahwa kematian adalah suatu takdir, tapi kematian akibat rokok sebenarnya bisa dicegah," ungkapnya.

dr Prijo Sidipratomo, SpRad (K) selaku Ketua umum PB IDI menuturkan bahwa merokok bisa menyebabkan berbagai penyakit dan kecanduan yang ditimbulkan bisa membuat orang merasa cemas, gelisah atau efek lainnya. Tapi sayangnya saat ini jumlah perokok dikalangan generasi muda semakin meningkat, dan pada perempuan mengalami peningkatan sebesar 3 kali lipat.

Kesehatan merupakan salah satu hak asasi manusia yang harus diwujudkan sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Untuk itu jika seseorang ingin merokok sebaiknya tidak mencelakakan orang lain.

"Merokoklah secara beradab dan jangan mencelakakan orang lain. Jika ingin merokok maka nikmati rokok dan asapnya sendiri, misalnya dengan cara menutup muka menggunakan kantong plastik hitam yang tidak dibuka sampai rokoknya selesai, jadi asap dan rokoknya dihisap sendiri," ujar mantan ketua IDI, dr Kartono Mohammad.

READ MORE - Sebetulnya Merokok Bukanlah Hak Asasi Tapi Hanya Kebutuhan Seseorang Saja

Sebetulnya apa saja yang terkandung dalam asap sebatang rokok yang dihisap ?

Rongga mulut sangat mudah terpapar efek yang merugikan akibat merokok. Tejadinya perubahan dalam rongga mulut sangat masuk diakal karena mulut merupakan awal terjadinya penyerapan zat-zat hasil pembakaran rokok. Temperatur rokok pada bibir adalah 30 derajat C, sedangkan ujung rokok yang terbakar bersuhu 900 derajat C.


Rokok merupakan benda yang sudah tak asing lagi bagi kita. Merokok sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum dan meluas di masyarakat. Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas. Banyak penelitian membuktikan kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paru-paru, kanker rongga mulut, kanker laring, kanker osefagus, bronkhitis, tekanan darah tinggi, impotensi serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin.

Pasien-pasien perokok juga berisiko tinggi mengalami komplikasi atau sukarnya penyembuhan luka setelah pembedahan termasuk bedah plastik dan rekonstruksi, operasi plastik pembentukan payudara dan operai yang menyangkut anggota tubuh, bagian bawah.



Sebetulnya apa saja yang terkandung dalam asap sebatang rokok yang dihisap ?


Pada kenyataannya kebiasaan merokok ini sulit dihilangkan dan jarang diakui orang sebagai suatu kebiasaan buruk. Apalagi orang yang merokok untuk mengalihkan diri dari stress dan tekanan emosi, lebih sulit melepaskan diri dari kebiasaan ini dibandingkan perokok yang tidak memiliki latar belakang depresi.


Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya bahaya dari seconhandsmoke yaitu asap rokok yang terhirup oleh orang-orang bukan perokok karena berada di sekitar perokok atau bisa disebut juga dengan perokok pasif. Rokok tidak dapat dipisahkan dari bahan baku pembuatannya yakni tembakau. Di Indonesia tembakau ditambah cengkih dan bahan-bahan lain dicampur untuk dibuat rokok kretek. Selain kretek tembakau juga dapat digunakan sebagai rokok linting, rokok putih, cerutu, rokok pipa dan tambakau tanpa asap (tembakau kunyah).

Sebetulnya apa saja yang terkandung dalam asap sebatang rokok yang dihisap ? Tidak kurang dari 4000 zat kimia beracun. Zat kimia yang dikeluarkan ini terdiri dari komponen gas (85 persen) dan partikel. Nikotin, gas karbonmonoksida, nitrogen oksida, hidrogen sianida, amoniak, akrolein, asetilen, benzaldehid, urethan, benzen, methanol, kumarin, 4-etilkatekol, ortokresol dan perylene adalah sebagian dari beribu-ribu zat di dalam rokok.

Komponen gas asap rokok adalah karbonmonoksida, amoniak, asam hidrosianat, nitrogen oksida dan formaldehid. Partikelnya berupa tar, indol, nikotin, karbarzol dan kresol. Zat-zat ini beracun, mengiritasi dan menimbulkan kanker (karsinogen). Sebetulnya apa sih zat-zat tersebut dan bagaimana mereka membahayakan tubuh ?
  • (1) Nikotin. Zat yang paling sering dibicarakan dan diteliti orang, meracuni saraf tubuh, meningkatkan tekanan darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah tepi dan menyebabkan ketagihan dan ketergantungan pada pemakainya. Kadar nikotin 4-6 mg yang diisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa membuat seseorang ketagihan.
  • (2) Timah hitam (Pb) yang dihasilkan sebatang rokok sebanyak 0,5 ug. Sebungkung rokok (isi 20 batang) yang habis diisap dalam satu hari menghasilkan 10 ug. Sementara ambang batas timah hitam yang masuk ke dalam tubuh adalah 20 ug per hari. Bisa dibayakangkan bila seorang perkok berat menghisap rata-rata 2 bungkus rokok per hari, berapa banyak zat berbahaya ini masuk ke dalam tubuh.
  • (3) Gas karbonmonoksida (CO) memiliki kecenderungan yang kuat untuk berikatan dengan hemoglobin dalam sel-sel darah merah. Seharusnya hemoglobin ini berikatan dengan oksigen yang sangat penting untuk pernasapan sel-sel tubuh, tapi karena gas CO lebih kuat daripada oksigen maka gas CO ini merebut tempatnya "di sisi" hemoglobin. Jadilah hemoglobin bergandengan dengan gas CO. Kadar gas CO dalam darah bukan perokok kurang dari 1 persen. Sementara dalam darah perokok mencapai 4-15 persen.
  • (4) Tar adalah kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap rokok dan bersifat karsinogen. Pada saat rokok dihisap, tar masuk ke dalam rongga mulut sebagai uap padat. Setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran pernafasan dan paru-paru. Pengedapan ini bervariasi antara 3-40 mg per batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24-45 mg.
Antibodi Menurun

Asap panas yang berhembus terus menerus ke dalam rongga mulut merupakan rangsangan panas yang menyebabkan perubahan aliran darah dan mengurangi pengeluaran ludan. Akibatnya rongga mulut menjadi kering dan lebih an-aerob (suasana bebas zar asam) sehingga memberikan lingkungan yang sesuai untuk tumbuhnya bakteri an-aerob dalam plak. Dengan sendirinya perokok berisiko lebih besar terinfeksi bakteri penyebab penyakit jaringan pendukung gigi dibandingkan mereka yang perokok.

Pengaruh asap rokok secara langsung adalah iritasi terhadap gusi dan secara tidak langsung melalui produk-produk rokok seperti nikotin yang sudah masuk melalui aliran darah dan ludah, jaringan pendukung gigi yang sehat seperti gusi, selaput gigi, semen gigi dan tulang tempat tertanamnya gigi menjadi rusak karena terganggunya fungsi normal mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan dapat merangsang tubuh untuk menghancurkan jaringan sehat di sekitarnya.

Pada perokok terdapat penurunan zat kekebalan tubuh (antibodi) yang terdapat di dalam ludah yang berguna untuk menetralisir bakteri dalam rongga mulut dan terjadi gangguan fungsi sel-sel pertahanan tubuh. Sel pertahanan tubuh tidak dapat mendekati dan memakan bakteri-bakteri penyerang tubuh sehinggal sel pertahanan tubuh tidak peka lagi terhadap perubahan di sekitarnya juga terhadap infeksi.

Gusi seorang perokok juga cenderung mengalami penebalan lapisan tanduk. Daerah yang mengalami penebalan ini terlihat lebih kasar dibandingkan jaringan di sekitarnya dan berkurang kekenyalannya. Penyempitan pembuluh darah yang disebabkan nikotin mengakibatkan berkurangnya aliran darah di gusi sehingga meningkatkan kecenderungan timbulnya penyakit gusi.

Tar dalam asap rokok juga memperbesar peluang terjadinya radang gusi, yaitu penyakit gusi yang paling sering tejadi yang disebabkan oleh plak bakteri dan faktor lain yang dapat menyebabkan bertumpuknya plak di sekitar gusi. Tar dapat diendapkan pada permukaan gigi dan akar gigi sehingga permukaan ini menjadi kasar dan mempermudah perlekatan plak. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan plak dan karang gigi lebih banyak terbentuk pada rongga mulut perokok dibandingkan bukan perokok. Penyakit jaringan pendukung gigi yang parah, kerusakan tulang penyokong gigi dan tanggalnya gigi lebih banyak terjadi pada perokok daripada bukan perkok. Pada perawatan penyakit jaringan pendukung gigi pasien perokok memerlukan perawatan yang lebih luas dan lebih lanjut. Padahal pada pasien bukan perokok dan pada keadaan yang sama cukup hanya dilakukan perawatan standar seperti pembersihan plak dan karang gigi.

Keparahan penyakit yang timbul dari tingkat sedang hingga lanjut berhubungan langsung dengan banyaknya rokok yang diisap setiap hari berapa lama atau berapa tahun seseorang menjadi perokok dan status merokok itu sendiri, apakah masih merokok hingga sekarang atau sudah berhenti.

Nikotin berperan dalam memulai terjadinya penyakit jaringan pendukung gigi karena nikotin dapat diserap oleh jaringan lunak rongga mulut termasuk gusi melalui aliran darah dan perlekatan gusi pada permukaan gigi dan akar. Nikotin dapat ditemukan pada permukaan akar gigi dan hasil metabolitnya yakni kontinin dapat ditemukan pada cairan gusi.

Perlekatan jaringan ikat dan serat-serat kolagen terhambat, sehingga proses penyembuhan dan regenerasi jaringan setelah perawatan terganggu.

Tembakau kunyah sering disebut juga tembakau tanpa asap, tampaknya juga telah menjadi tren dan produknya banyak dimanfaatkan oleh kalangan muda, atletik dan wanita usia lanjut di Amerika. Di Indonesia mengunyah tembakau telah menjadi kebiasan sejak dulu. Walaupun tanpa asap kebiasaan mengunyah tembakau ini diduga sebagai penyebab terjadinya 'bercak putih' (leukoplakia) dan terjadinya kanker rongga mulut. Kelainan biasanya terjadi di daerah pipi, tempat tembakau tanpa asap ini biasa disisipkan. [ suaramedia.com ]


READ MORE - Sebetulnya apa saja yang terkandung dalam asap sebatang rokok yang dihisap ?

Manfaat Rokok Bagi Tubuh

Manfaat Rokok Bagi Tubuh. Rokok mengandung ribuan bahan racun yang siap merusak tubuh secara perlahan. Penyakit jantung dan kanker adalah penyebab kematian yang bisa diakibatkan oleh kebiasaan merokok.

Karena efek ketergantungan terhadap rokok orang terus membelinya dengan berbagai alasan meskipun sebenarnya termasuk pemborosan.

Pemerintah telah melakukan banyak cara untuk mengurangi kebiasaan merokok masyarakat dan sebenarnya sudah banyak orang yang sudah mengetahui bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan.

Tetapi mengapa masih saja banyak orang yang merokok ? Tidak bisa dipungkiri lagi merokok itu adalah kebiasaan yang nikmat dan juga dapat menimbulkan ketagihan.

Rokok yang berbahan dasar tembakau mengandung nikotin. Nikotin inilah zat yang menjadikan rokok itu nikmat dan menimbulkan ketagihan.

Sejarah Rokok

Nikotin berasal dari nama Jean Nicot yang memperkenalkan zat tersebut dalam bidang kedokteran. Nikotin yang berasal dari tanaman tembakau atau Nicotiana tabacum L diduga berasal dari Argentina.

Orang Indian mengunyah atau menghisap tembakau dalam upacara adat sejak jaman dulu. Colombus memperkenalkan tembakau ke Eropa pada tahun 1490.

Setelah itu tembakau mulai menyebar ke berbagai belahan dunia. Nikotin inilah zat yang menjadikan rokok itu nikmat dan menimbulkan ketagihan.

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan telah diketahui bahwa tembakau dalam hal ini pada rokok telah mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan.

Pada tahun 1964, Ahli bedah di Amerika Serikat menyatakan bahwa merokok tembakau adalah penyebab utama kanker paru. Berbagai zat racun pun diketahui terdapat pada hasil pembakaran rokok yang dihisap.

Efek Nikotin Pada Tubuh

Pengaruh nikotin terhadap saraf pusat dan perilaku antara lain meningkatkan kewaspadaan, mengurangi ketegangan mental pada waktu stres, meningkatkan daya ingat jangka pendek, memperpendek waktu reaksi, mengurangi rasa lapar serta menigkatkan perhatian.

Efek nikotin dalam kenikmatan dan menimbulkan kecanduan akibat dari rangsangannya terhadap saraf pusat yaitu otak. Di otak nikotin menempati reseptor kolinergik nikotinik.

Di dalam otak terdapat area yang disebut sebagai Brain Pleasure System. Jika reseptor di area otak tersebut dirangsang oleh nikotin, akan timbul rasa nikmat dalam waktu tertentu.

Setelah rasa nikmat berkurang, seseorang akan kembali menghisap rokok. Pada seorang perokok bagian otak ini akan terus dirangsang sehingga menimbulkan ketagihan jika kadar nikotin dalam darah rendah.

Tentu saja rasa nikmat ini juga dipengaruhi selera individu terhadap berbagai racikan rokok pada berbagai merk rokok.

READ MORE - Manfaat Rokok Bagi Tubuh

Ingin Cepat Pikun ?!. Silahkan Terus Merokok.

Ingin Cepat Pikun ?!. Silahkan Terus Merokok. Selain mendatangkan berbagai efek buruk bagi kesehatan jantung dan paru-paru, merokok ternyata bisa juga mempercepat kepikunan.

Studi terbaru para peneliti dari Minnesota University, Amerika Serikat, mengklaim kalau merokok di usia pertengahan bisa meningkatkan risiko mengalami kepikunan hingga 75%.

Studi yang dipublikasikan pada Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry ini menemukan, perokok yang berusia 46-70 berisiko 70% lebih besar menderita kepikunan dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok.

Studi ini menemukan hubungan erat antara penyakit akibat faktor gaya hidup, seperti diabetes dan hipertensi, dengan kepikunan. Mereka yang menderita hipertensi, menurut peneliti, berisiko 60% lebih besar menderita kepikunan. Sedang pengidap diabetes bahkan berisiko dua kali lipat lebih besar.

"Hasil penelitian kami menunjukkan betapa pentingnya modifikasi gaya hidup dan mengobati faktor risiko sejak dini untuk mencegah kepikunan," kata pimpinan penelitian Dr Alvaro Alonso, seperti dikutip dari Dailymail. [ inilah.com ]

READ MORE - Ingin Cepat Pikun ?!. Silahkan Terus Merokok.

Inilah Fakta Belanja Rokok Vs Belanja Pendidikan

Inilah Fakta Belanja Rokok Vs Belanja Pendidikan. Belanja Rokok Warga Bogor Melebihi Biaya Pendidikan dan Kesehatan. Belanja rokok mencapai 6,9 persen, sedangkan untuk pendidikan 6,4 persen dan kesehatan 2 persen

Pernyataan ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor dr Triwandha Elan baru-baru ini. Triwandha menyatakan keprihatinannya, biaya belanja untuk kebutuhan rokok masyarakat justru lebih tinggi ketimbang untuk kesehatan dan pendidikan.

"Berdasarkan data Susenas (Survei Sensus Nasional), belanja rokok dan alkohol di Kota Bogor melebihi belanja untuk kesehatan dan pendidikan," katanya di Bogor, Minggu lalu.

Dikemukakannya, untuk belanja rokok/alkohol mencapai 6,9 persen, sedangkan belanja untuk pendidikan 6,4 persen, dan kesehatan hanya 2 persen.

"Pengeluaran belanja rokok atas 41.349 KK miskin per tahunnya lebih dari Rp20 miliar," katanya.

Ia juga menyodorkan data lain, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar Kota Bogor tahun 2007, jumlah perokok mencapai 29,6 persen dengan rata-rata jumlah batang rokok yang dihisap per hari 8,89 persen.

Sedangkan berdasarkan hasil Surkesda (Survei Kesehatan Daerah) tahun 2004, disebutkan bahwa jumlah perokok laki-laki di rumah tangga mencapai 57 persen, sedangkan perokok wanita 47 persen.

Populasi penduduk di Kota Bogor berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 905.132 jiwa atau hampir 1 juta jiwa.

Guna menekan turunnya jumlah perokok, katanya, sejauh ini Kota Bogor telah memiliki peraturan daerah (Perda) Nomor 8 tahun 2006 tentang ketertiban umum pasal 14,15, dan pasal 16 yang mengatur KTR (kawasan tanpa rokok).

Dalam Perda ini antara lain mengatur tentang pelarangan merokok di lingkungan lembaga pendidikan, kesehatan, tempat-tempat umum, tempat ibadah, arena bermain anak, tempat kegiatan belajar mengajar, tempat kerja, dan di dalam angkutan kota.

"Rencananya tahun ini Perda KTR akan dibuat khusus, yang tidak lagi digabungkan dengan Perda ketertiban umum," katanya.

Sementara itu, cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Bogor Ahmad Fahir, MSi berpendapat bahwa deklarasi KTR di Kota Bogor yang telah dicanangkan unsur masyarakat dan pemerintah kota (Pemkot) Bogor akhir Mei 2009, hendaknya jangan berhenti pada kegiatan seremonial deklarasi formal saja. “Pola deklarasi-deklarasi mengenai apapun yang bertujuan baik, seringkali kemudian berhenti pada sebatas deklarasi itu sendiri.”

“Nah... apakah deklarasi KTR di Kota Bogor bisa menjadi aksi berkesinambungan, itulah tantangan dan ujiannya agar tidak seperti kebiasaan deklarasi yang ada," katanya.

Deklarasi KTR telah dilakukan oleh ratusan unsur masyarakat dan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan deklarasi yang dilakukan Wakil Wali Kota Bogor Achmad Ru`yat, Wakil Ketua DPRD Iwan Suryawan, dan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bogor Hj Fauziah Diani Budiarto.

Dalam deklarasi antara lain disebutkan bahwa perwakilan masyarakat bertekad untuk menegakkan kawasan tanpa rokok di Kota Bogor.

Menurut Ahmad Fahir, komitmen deklarasi KTR itu perlu "dikawal" agar tidak terjebak pada pola deklarasi yang ada, karena berdasarkan temuan inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Seksi Promosi Kesehatan Dinkes Kota Bogor, ternyata penerapan KTR seperti yang diatur dalam peraturan daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2006 tentang ketertiban umum di lingkup kantor pemerintah saja masih ditemukan pelanggaran.

Ia merujuk pada Sidak yang dilakukan Kepala Seksi Promosi Dinkes Kota Bogor drg Yunita bersama empat anggota tim, ke kantor Kecamatan Bogor Timur, ditemukan beberapa pegawai kecamatan sedang merokok di ruang kerjanya.

"Itu sebabnya bahwa tantangan ke depan, terlebih setelah ada deklarasi, membutuhkan komitmen sungguh-sungguh," kata pria yang baru menyelesaikan studi strata 2 (S2) Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Wakil Wali Kota Bogor Achmad Ru`yat sendiri sepakat bahwa dideklarasikannya KTR yang dilakukan berbagai unsur masyarakat itu, tidak hanya sebatas deklarasi. Tapi bisa diwujudkan di lingkungan masyarakat di seluruh wilayah Kota Bogor. [ant/Hidayatullah.com]

READ MORE - Inilah Fakta Belanja Rokok Vs Belanja Pendidikan

Kecanduan Tembakau Telah Membunuh Rata - Rata 1 Orang Setiap 6 Detik

Kecanduan Tembakau Telah Membunuh Rata - Rata 1 Orang Setiap 6 Detik - Tidak hanya di Tanah Air, kecanduan terhadap tembakau juga merupakan masalah serius di berbagai negara di dunia. Misalkan saja di Amerika Serikat, tercatat satu dari enam kematian di negeri itu secara langsung atau tidak berhubungan dengan merokok.

a. Fakta

Beberapa orang mungkin berpikir penggunaan tembakau hanyalah sebuah kebiasaan. Namun pada kenyataannya tembakau adalah obat yang sangat adiktif. Nikotin pada awalnya menghasilkan efek relaksasi dan meningkatkan kewaspadaan mental. Namun, setelah itu tetap dibutuhkan nikotin lebih banyak untuk menghasilkan efek yang sama. Maka itulah, jika memutuskan untuk mengurangi penggunaan tembakau, Anda mungkin mengalami gejala penarikan diri negatif seperti kecemasan atau mudah marah.

Lebih dari 70 juta orang Amerika terhitung mengonsumsi tembakau. Sebagian besarnya adalah perokok. Bentuk lain dari penggunaan tembakau yakni cerutu, pipa, dan mengunyah tembakau. Sekitar 4.000 remaja setiap hari mengisap rokok pertama mereka. Rokok pun diketahui berbahaya karena bisa menyebabkan penyakit jantung, stroke, kanker mulut, paru-paru, kerongkongan, dan kandung kemih. Penggunaan tembakau juga merupakan penyebab utama kematian di Amerika Serikat

Secara global, ada lebih dari 1 miliar perokok di dunia. Kecanduan tembakau membunuh rata-rata 1 orang setiap 6 detik. Pada akhirnya tembakau membunuh sampai setengah dari seluruh penggunanya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penggunaan tembakau merupakan faktor risiko dan salah satu dari 6 penyebab utama kematian di dunia.

b. Kesalahpahaman

Kesalahpahaman yang paling umum yakni menggunakan perokok tembakau memiliki bahaya lebih sedikit daripada rokok biasa. Padahal penggunaan tembakau tanpa asap dapat menyebabkan kanker mulut, kerongkongan, dan faring. Ini juga dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung.

c. Pencegahan dan solusi

Nikotin adalah obat adiktif. Kecanduannya ditandai oleh keharusan untuk mencari obat tersebut, bahkan ketika Anda tahu dan sadar ada konsekuensi negatif. Permen karet nikotin bisa membantu menghentikan kecanduan pada beberapa orang. Terapi perilaku juga dapat membantu perokok mengidentifikasi pemicu sehingga mereka dapat merencanakan strategi untuk melawan keinginan untuk merokok. (Pri/OL-06)

READ MORE - Kecanduan Tembakau Telah Membunuh Rata - Rata 1 Orang Setiap 6 Detik

Kapan Saat Yang Tepat Berhenti Merokok ?

Kapan Saat Yang Tepat Berhenti Merokok ?. Ada banyak alasan mengapa Anda harus berhenti merokok. Antara lain, akan merasa lebih nyaman dengan kondisi tubuh yang sehat, karena indera penciuman berfungsi lebih baik, kulit tidak cepat keriput, dan makan pun menjadi lebih nikmat.

Manfaat dari berhenti merokok bisa langsung dirasakan oleh tubuh. Contohnya, dalam tempo 20 menit seusai merokok, tekanan darah dan denyut nadi Anda akan kembali normal. Setelah tiga hari tidak merokok, maka nikotin tidak terdeteksi lagi dalam darah, indera penciuman kembali normal, dan Anda bisa bernapas lebih lega. Dalam waktu 2 sampai 12 minggu setelah benar-benar berhenti merokok, sirkulasi di berbagai bagian tubuh Anda akan berangsur membaik.

Bagaimana cara berhenti merokok? Mulailah meredam keinginan merokok. Hasrat yang kuat (lamanya 2-3 menit) umumnya timbul beberapa jam setelah Anda menghabiskan rokok terakhir. Memang, dorongan itu hanya sebentar, tapi detik-detik itu merupakan kunci untuk bisa berhenti merokok.

Cobalah melakukan suatu kegiatan untuk menghilangkan keinginan tersebut, misalnya menarik napas panjang, berdirilah dan berjalan sebentar, rentangkan tangan, minum segelas air putih atau jus buah.

Sebenarnya, jika ditanya kapan waktu yang tepat untuk berhenti rokok adalah sekarang juga. Namun, yang perlu Anda sadari ada waktu-waktu tertentu yang bisa dijadikan momen tepat untuk berhenti merokok.

- Jangan memaksakan berhenti merokok di saat liburan, sebab akan membuat hidup Anda semakin berat kala memulai lagi ke aktivitas rutin. Sebaiknya, mulailah berhenti merokok di hari kerja.

- Sebelum mendapat haid, sebaiknya Anda jangan berhenti merokok. Soalnya, bila Anda sering mengalami kram perut atau moody, keinginan untuk mengisap rokok malah semakin besar.

- Pada bulan puasa bisa jadi waktu yang tepat untuk berhenti merokok. Setelah sebulan Anda 'dipaksa' puasa merokok, hal ini bisa menjadi kebiasaan baik yang dilanjutkan. Namun, ada baiknya Anda juga mengurangi rokok saat sahur dan berbuka puasa.

- Saat berencana ingin hamil merupakan waktu yang tepat. Pasalnya, racun yang terkandung dalam rokok bisa mengganggu kesehatan janin. Parahnya, bisa menyebabkan keguguran dan cacat saat bayi lahir [ suaramedia ]

READ MORE - Kapan Saat Yang Tepat Berhenti Merokok ?

Hubungan Rokok dan Kemiskinan

Hubungan Rokok dan Kemiskinan. Konsumsi rokok diyakini sebagai salah satu indikator kemiskinan masyarakat Indonesia selama ini, akibatnya perilaku tersebut tidak hanya dapat mengurangi pendapatan, belanja bulanan keluarga, hingga berujung pada kematian.

"Saya pernah menemukan kesaksian ada seorang sopir berpenghasilan Rp50 ribu sehari dengan empat anak yang kedua anaknya tidak sekolah dengan alasan biaya. Anehnya, sopir tersebut mampu menghabiskan uang Rp24 ribu per hari untuk membeli tiga pak rokok. Sementara, ia memberi uang belanja kepada istrinya sebesar Rp20 ribu sehari," kata Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, di Surabaya, Kamis.

Ia mengakui, hal itu memang fenomena umum yang sering ditemui diantara masyarakat miskin di Indonesia.

"Meski sang kepala rumah tangga memiliki penghasilan terbatas, ia mengonsumsi rokok seperti layaknya kereta api," katanya.

Menurut dia, merokok berdampak pada berkurangnya pendapatan yang bisa dibelanjakan untuk kepentingan lain seperti makanan yang sehat dan layak, biaya sekolah, dan sebagainya.

"Semisal, seorang kepala keluarga mengonsumsi rokok satu pak seharga Rp5 ribu per hari. Padahal, uang yang terbakar melalui rokok tersebut bisa dibelikan tiga butir telur yang mengandung banyak gizi untuk makan seluruh anaknya," katanya.

Selain itu, kata dia, secara ilmiah terbukti bahwa merokok menimbulkan banyak masalah kesehatan dan meningkatkan biaya kesehatan yang jumlahnya bisa tiga kali lipat dari cukai rokok.

"Bahkan, lebih dari 70.000 penelitian di Amerika Serikat berhasil membuktikan bahaya merokok bagi kesehatan," katanya.

Melihat beragam kenyataan itu, ia berharap, pemerintah mengambil sikap tegas. Salah satunya dengan menaikkan harga cukai rokok, melarang secara total iklan rokok, dan memasang peringatan bergambar mengenai bahaya merokok.

"Sekarang, besaran cukai rokok rata-rata baru 38 persen. Padahal, dalam Pasal 5 UU Nomer 39 Tahun 2007, pemerintah boleh mematok cukai hingga 57 persen. Namun, besaran itu ternyata masih rendah dibandingkan patokan cukai luar negeri yang mencapai 65 persen," katanya.

Kontroversi lain, ia menjelaskan, mengenai usulan pelarangan iklan rokok secara total dengan alasan olahraga dan musik akan mati karena tidak ada sponsor. Bila dibandingkan dengan negara Thailand yang melarang total iklan rokok, apakah sepak bola Indonesia lebih baik dari Thailand karena sebagian besar masyarakatnya masih merokok.

"Meski tanpa iklan rokok, sepak bola Thailand lebih baik dari sepak bola nasional. Begitu halnya dengan musik, di luar negeri musiknya tetap hidup tanpa iklan rokok," katanya.

Ketua Bidang Penyuluhan dan Pendidikan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), Fuad Baradja, menyesalkan, mengapa "political will" Indonesia lemah terhadap penanggulangan rokok. "Padahal, saat ini sudah ada sekitar 164 negara di dunia yang memiliki payung hukum terhadap hal itu," katanya.

Sependapat dengan Ahsan, aktivis yang sudah berhenti merokok sejak tahun 1991 itu, menyarankan, agar cukai rokok dinaikkan sehingga harga rokok akan terkerek naik. Melalui kenaikan cukai itu, angka perokok yang khususnya dari rumah tangga termiskin akan berkurang.

"Jika hal itu sukses, bukan tidak mungkin jumlah perokok yang berasal dari keluarga terkaya juga turun. Akibatnya, bangsa ini akan terbebas dari rokok yang jelas merugikan diri sendiri dan orang tercinta di sekitar mereka," katanya.

Kebiasaan merokok, menurut dia, memang dinilai menyenangkan oleh sebagian orang ini, tetapi justru memberi dampak negatif.

"Apalagi, terdapat sekitar 4.000 zat kimia dalam sebatang rokok yang menjadi sumber penyakit ataupun memperparah penyakit yang diderita seseorang," katanya. [ Antara Jumat, Mei 29 ]

READ MORE - Hubungan Rokok dan Kemiskinan

Apasih Untungnya Berhenti Merokok !?

Apasih Untungnya Berhenti Merokok !?. Jika untuk prestasi yang dapat dikatakan tidak bisa dibanggakan, Indonesia sering berhasil duduk di posisi 5 besar.Dalam peringatan Hari Anti Tembakau Internasional (tanggal 31 Mei 2006), Indonesia masih dihadapi kenyataan sebagai negara yang termasuk lima besar konsumsi rokok dunia. Sehubungan dengan kebiasaan merokok, ada yang aneh dengan bangsa ini. Jika negara lain menunjukkan trend penurunan kebiasaan merokok, di Indonesia justru memperlihatkan kenaikan meski masih dililit problem ekonomi. Lebih celaka lagi, biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk konsumsi rokok justru jauh lebih besar dibandingkan anggaran kesehatan per kapita.

Pada situs resmi dinas kesehatan Jogjakarta dikatakan bahwa di sejumlah negara, baik di negara maju maupun kawasan ASEAN, konsumsi rokok mengalami penurunan, kecuali di Indonesia. Pertumbuhan perokok di negara kita malah meningkat tajam. Pakar penyakit paru FKUI Prof. Dr. Hadiarto Mangunnegoro, Sp.P., menyatakan, jumlah perokok aktif di Indonesia naik dari 22,5% pada tahun 1990-an menjadi 60% dari jumlah penduduk pada tahun 2000 (GloriaNet). WHO memperkirakan bahwa 59% pria berusia di atas 10 tahun di Indonesia telah menjadi perokok harian.

Diperkirakan, konsumsi rokok Indonesia setiap tahun mencapai 199 miliar batang rokok atau urutan ke-4 setelah RRC (1.679 miliar batang), AS (480 miliar), Jepang (230 miliar), dan Rusia (230 miliar). Dalam sepuluh tahun terakhir, konsumsi rokok di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 44,1% dan jumlah perokok mencapai 70% penduduk Indonesia. Yang lebih menyedihkan lagi, 60% di antara perokok adalah kelompok berpenghasilan rendah. Tingginya konsumsi merokok dipercaya bakal menimbulkan implikasi negatif yang sangat luas, tidak saja terhadap kualitas kesehatan, tetapi juga menyangkut kehidupan sosial dan ekonomi.

Masih menurut WHO, rata-rata orang Indonesia menggunakan 15% uangnya untuk membeli rokok. Memang belum angka yang luar biasa, jika dibandingkan Bangladesh, yang rata-rata penduduknya menghabiskan sepuluh kali lipat hanya untuk rokok dibanding yang dihabiskan untuk pendidikan. Biaya yang harus dikeluarkan seorang perokok tiap tahunnya sangat besar.

Dengan asumsi sehari rata-rata seorang perokok menghabiskan sebungkus rokok dengan harga Rp 10.000 per bungkus, dalam sebulan ia harus mengeluarkan uang Rp 300.000 dan dalam setahun Rp 3.600.000. Uang sebanyak itu bisa kita hemat jika kebiasaan merokok dikurangi. Selain kita bisa memiliki cadangan uang yang bisa digunakan untuk keperluan lain, mengurangi kebiasaan merokok juga sangat menyehatkan, terutama sehat dari penyakit yang berhubungan dengan paru-paru dan jantung,

Rokok merupakan benda yang sudah tak asing lagi bagi kita. Merokok sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum dan meluas di masyarakat. Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas.Banyak penelitian membuktikan kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paruparu, kanker rongga mulut, kanker laring, kanker osefagus, bronkhitis, tekanan darah tinggi, impotensi serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin.

Sebuah survei yang dijabarkan oleh DR. Martha Tilaar tentang perokok di Indonesia menurut jenis kelamin, menyatakan bahwa jumlah perokok di Indonesia memang masih lebih banyak di kalangan pria (60 % pria merokok) dan wanita yang merokok 10 % (World No Tobaco Day Seminar, 31 Mei 1994). Sebelumnya dari survei yang dilakukan Survei Kesehatan Rumah Tangga 1980 diperoleh, pria perokok 46,4 % dan di kalangan wanita hanya 2,4 %.

Survei lainnya menurut Medika Jurnal Kedokteran Indonesia Maret 2006, diketahui bahwa laki-laki remaja lebih banyak menjadi perokok dan hampir dua pertiga dan kelompok umur produktif adalah perokok. Selama 5 tahun, telah terjadi peningkatan kebiasaan merokok pada semua kelompok umur pria, sedangkan pada wanita terjadi penurunan. Pada pria, prevalensi perokok tertinggi adalah kelompok umur 25 —29 tahun. Hal ini terjadi karena jumlah perokok pemula jauh lebih banyak dari perokok yang berhasil berhenti merokok dalam satu rentang populasi penduduk.

Sebagian besar perokok mulai merokok pada umur kurang dari 20 tahun dan separuh dari laki-laki umur 40 tahun ke atas telah merokok selama 30 tahun atau lebih. Lebih dan separuh perokok mengkonsumsi minimal 10 batang rokok per hari.

Hasil penelitian menunjukkan hampir 70% perokok Indonesia mulai merokok sebelum mereka berumur 19 tahun. Banyaknya perokok pemula di kalangan anak-anak dan remaja mungkin karena mereka belum mampu menimbang bahaya merokok bagi kesehatan dan dampak adiktif yang ditimbulkan nikotin. Perokok mungkin beranggapan bahwa mereka sendirilah yang menanggung semua bahaya dan risiko akibat kebiasaannya, tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka juga memberikan beban fisik dan ekonomi pada onang lain di sekitarnya sebagai perokok pasif.

Kenapa Pria Sulit Berhenti Merokok?. Pada setiap bungkus dan iklan rokok telah dicantumkan peringatan kesehatan tentang bahaya merokok. Setiap perokok tentu tahu tentang hal itu. Walaupun demikian, tampaknya peringatan hanya berpengaruh pada perokok wanita, sedangkan pada pria tidak. Ini mungkin terjadi karena wanita lebih peduli dibandingkan pria terhadap akibat merokok pada dirinya (membahayakan kehamilan, kerusakan pada janin, dan risiko kanker serta penyakit jantung).

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kenapa pria sulit atau tidak berhenti dan kebiasaan merokok? Hal ini terjadi karena sifat nikotin yang sangat adiktif. Di samping itu, lingkungan yang tidak mendukung untuk berhenti merokok lebih banyak terdapat pada pria dibanding wanita. Lingkungan yang tidak mendukung seseorang ingin berhenti merokok di antaranya pada saat main kartu/catur, sedang menunggu, stres, minum kopi, habis makan, dan jumpa teman lama yang perokok.

Sifat adiktif tembakau menyebabkan orang tergantung pada rokok dan jika dihentikan akan menimbulkan berbagai keluhan, seperti sulit mengkonsentrasikan pikiran dan kurang percaya diri. Di samping itu, pria memiliki otoritas dalam menentukan pilihannya karena memiliki uang dan kesempatan untuk membeli rokok.

Satu hal lagi, pria usia produktif (usia menengah) sering kali mengabaikan kesehatannya, karena merasa di usianya itu ia merasa memiliki fisik yang kuat. Padahal di usia pertengahan, termasuk pria, rawan terhadap perubahan fisiologi tubuh yang bisa menyebabkan terjadinya penurunan daya tahan tubuh terhadap berbagai faktor penyebab sakit. Namun sedikit yang menyadari perubahan seperti itu, karena menganggap dirinya sehat, sehingga tidak perlu memperhatikan kesehatan dirinya, bahkan enggan untuk memeriksakan kesehatannya.

Bagaimana Dengan Anda !? Memang tidak mudah meninggalkan kebiasaan yang sudah jadi gaya hidup seperti merokok. Padahal sebenarnya kebiasaan yang jelas merugikan ini dapat dengan mudah juga dibuang, terutama kalau dipertimbangkan konsekuensinya. Relakah Anda menukar kesehatan dengan kenikmatan semu tembakau yang tak lain adalah racun?

Apabila anda sudah mempersiapkan diri untuk berhenti merokok, maka setelah anda serius untuk menjalaninya. Anda akan mengalami beberapa tahap perubahan dalam diri anda baik perubahan dan dampak positif (jangka pendek dan jangka panjang) dapat terjadi pada seseorang yang sukses menjalani program berhenti merokok.
  • Dalam 20 menit: tekanan darah dan denyut nadi kembali normal.
  • Dalam 8 jam: kadar oksigen di darah kembali ke angka normal.
  • Dalam 24 jam: karbon dioksida dieliminasi dari tubuh dan paru mulai mengeluarkan mukus (lendir) dan debris (kotoran).
  • Dalam 48 jam: nikotin tidak dapat lagi dideteksi dari dalam tubuh dan kemampuan untuk mencium dan merasakan menjadi lebih baik.
  • Dalam 72 jam: bernafas mulai terasa lebih lega karena bronkus (cabang tenggorok) lebih elastis dan kemampuan paru-paru untuk beraktivitas mulai meningkat.
  • Dalam 2-12 minggu: sirkulasi di berbagai bagian tubuh mulai membaik.
  • Dalam 3-9 bulan: gangguan pernafasan, seperti batuk, sesak nafas dan bising mengi (asma), mulai membaik, serta secara keseluruhan fungsi paru-paru akan meningkat sekitar 5-10%.
  • Dalam 5 tahun: risiko terjadinya serangan jantung menjadiberkurang dibandingkan dengan mereka yang terus merokok.
  • Dalam 10 tahun: risiko mendapat kanker paru-paru menjadi- dari risiko para perokok, dan risiko mendapat serangan jantung menjadi kurang lebih sama dengan mereka yang tidak pernah merokok sama sekali sebelumnya.
Sekarang semua terserah anda atau hanya mungkin kematian yang bisa memisahkan antara anda dan rokok yang jelas jelas beracun dan mematikan. “ Hanya Orang Bodoh Yang Tidak Mengasihi Dirinya Sendiri “

READ MORE - Apasih Untungnya Berhenti Merokok !?

You Can Stop Smoking

You Can Stop Smoking - The facts are clear. There is nothing worse you could do to adversely affect your health. Smoking is the leading cause of preventable death. Women are three times more likely to develop lung cancer then men. Cancer has now replaced heart disease as the number one killer of Americans aged 85 and younger. 1/3 of all cancer deaths are related to smoking.

Although there has been a huge decrease in the number of smokers between 1965 and 2000, 22 f American adults still continue to smoke. The good news is that surveys have shown that 70 f active smokers want to quit.

When you quit smoking the benefits are immediate. Blood cells that transport carbon monoxide from cigarette smoke begin to transport healthy oxygen. Even though quitting doesn't completely eliminate the risk of developing lung cancer, the risk of lung cancer starts to decline. One year after quitting smoking your chances of having a heart attack drops by half. The risk of lung cancer continues to decline and drop dramatically five to ten years after quitting. So we know that quitting is essential to enjoying a long and healthy life. The question is how do you pick the right way to stop smoking for you?

The first thing you need to know is that most smokers quit unsuccessfully several times before they quit for good. You will most likely not be successful your first time around - but you must still try! Each time you attempt to quit you come closer to finally quitting for good.

There are many organizations available to help you take control of your health and quit smoking. Most smokers find a greater success rate in groups. Organizations such as SmokEnders have community based seminars and will come to the workplace to counsel smokers. SmokEnders is a gradual stop smoking program that says it's success is based on treating the physical and the psychological aspects of smoking. They offer unlimited toll-free phone counseling.

Some people prefer to try to stop cold turkey. They stop smoking completely with little or no reduction in the number of cigarettes they smoke beforehand. As with any smoker who quits, those who quit cold turkey will experience the withdrawal symptoms of irritability, increased appetite and restlessness. For someone trying to stop smoking cold turkey help can be obtained using medications such as Zyban which lessens withdrawal symptoms. Zyban can only be obtained with a prescription.

Some smokers obtain relief from smoking withdrawal with a nicotine replacement commonly known as a nicotine patch. Patches are used for up to eight weeks. Nicotine patches are available over the counter. It is suggested that you talk to your doctor before trying any over the counter nicotine replacement therapy.

The American Cancer Society and American Lung Association have free information available. The federal government also has free information for smokers available at http://www.smokefree.gov.

READ MORE - You Can Stop Smoking

Dangers Of Smoking

Dangers Of Smoking - Almost everybody knows that smoking is bad for the health. Images of blackened lungs line school hallways and hospital waiting rooms, but despite this people continue to take up smoking. This may have to do with the pervasive romantic image of smoking -- an image that has nothing in common with reality.

There are many ways to take tobacco. You can chew it, inhale it through the nose, and smoke it in the form of cigars or cigarettes. No matter how it's taken it is dangerous, but because smoking is the most popular way to consume tobacco it has also received the greatest attention from the medical field and the media.

When a smoker inhales a puff of cigarette smoke the large surface area of the lungs allows nicotine to pass into the blood stream almost immediately. It is this nicotine "hit" that smokers crave, but there is a lot more to smoke than just nicotine. In fact, there are more than 4000 chemical substances that make up cigarette smoke and many of them are toxic.

Cigarette smoke is composed of 43 carcinogenic substances and more than 400 other toxins that can also be found in wood varnish, nail polish remover, and rat poison. All of these substances accumulate in the body and can cause serious problems to the heart and lungs.

Cancer is the most common disease associated with smoking. Smoking is the cause of 90% of lung cancer cases and is related to 30% of all cancer fatalities. Other smoking-related cancers include cancers of the mouth, pancreas, urinary bladder, kidney, stomach, esophagus, and larynx.

Besides cancer, smoking is also related to several other diseases of the lungs. Emphysema and bronchitis can be fatal and 75% of all deaths from these diseases are linked to smoking.

Smokers have shorter lives than non-smokers. On average, smoking takes 15 years off your life span. This can be explained by the high rate of exposure to toxic substances which are found in cigarette smoke.

Smokers also put others at risk. The dangers of breathing in second-hand smoke are well known. Smokers harm their loved ones by exposing them to the smoke they exhale. All sorts of health problems are related to breathing in second-hand smoke. Children are especially susceptible to the dangers of second-hand smoke because their internal organs are still developing. Children exposed to second-hand smoke are more vulnerable to asthma, sudden infant death syndrome, bronchitis, pneumonia, and ear infections.

Smoking can also be dangerous for unborn children. Mothers who smoke are more likely to suffer from miscarriages, bleeding and nausea, and babies of smoking mothers have reduced birth weights or may be premature. These babies are more susceptible to sudden infant death syndrome and may also have lifelong health complications due to chest infections and asthma.

It is never too late to give up smoking, even those who have smoked for 20 years or more can realize tremendous health benefits from giving up the habit.

READ MORE - Dangers Of Smoking