Inilah Bisnis Dokter Di Rumah Sakit


Sudah menjadi rahasia umum bila hubungan antara kalangan kedokteran dan perusahaan farmasi bagaikan prangko dengan amplop. Keduanya saling membutuhkan. Dokter pasti selalu bersentuhan dengan obat-obatan, sedangkan perusahaan farmasi berkepentingan memasarkan sebanyak mungkin produknya. 

Tak heran kemudian terjadi "keakraban" antara dokter dan perusahaan farmasi yang diwakili para detailer (sales obat) itu. Sebab, kedua pihak mempunyai kepentingan yang hampir sama: mendapatkan keuntungan yang besar dari penjualan (peresepan) obat ke pasien. Perusahaan farmasi sangat berharap dokter-dokter "rekanan"-nya bersedia membeli dan atau meresepkan obat-obat produknya. Sementara para dokter berharap mendapatkan potongan harga yang besar, komisi, atau hadiah (reward) dari "bantuannya" menjualkan / meresepkan obat-obatan keluaran perusahaan farmasi itu.

Inilah Bisnis Dokter Di Rumah Sakit

Ya, begitulah yang terjadi. Bagi kalangan awam, keberadaan para detailer yang mangkal di RS ( Rumah Sakit ) atau klinik praktik dokter, memang sepertinya pemandangan yang biasa. Masyarakat pun tak pernah mengkritisi atau bahkan protes tentang hubungan yang "harmonis" dokter dan detailer itu. Padahal, bisa jadi, dari hubungan itu, para pasienlah yang menjadi "korban".

Suatu sore, Jawa Pos mengunjungi tempat praktik dokter A di kawasan Surabaya Timur. Saat itu, lima detailer dengan sabar menunggu dokter "rekanan"-nya yang sedang memeriksa para pasien. Dari lima sales obat itu, ada yang membawa keranjang berisi buah-buahan, ada juga yang membawa kardus berisi DVD player.

Detailer yang membawa DVD player itu mengaku bernama Doni. Dia membawa "bingkisan" untuk diserahkan kepada dokter A. Bingkisab tersebut merupakan reward perusahaan Doni atas kerja sama dokter A selama ini.

Bagi masyarakat awam, jawaban Doni itu mungkin membingungkan. Kenapa Doni harus memberi DVD player padahal dokter A tak memintanya. Setelah ditanya lagi, laki-laki 25 tahun itu bercerita bahwa DVD player itu untuk membina hubungan baik dengan dokter A. Karena dokter A telah meresepkan obat produk perusahaan farmasi tempat kerja Doni dalam jumlah besar. "Makanya, Pak Dokter layak mendapat hadiah. Biar dokternya mau terus meresepkan obatku," tambahnya terus terang.

Itulah salah satu trik yang harus dilakukan detailer untuk melanggengkan hubungan bisnis dengan para dokter rekanannya. Bahkan, bila perlu, si detailer memenuhi keinginan atau kebutuhan si dokter. "Makanya, kita harus bisa menangkap sinyal-sinyal yang diberikan sang dokter. Karena, kerap keinginan itu tak disampaikan secara langsung," lanjut Doni yang enggan menyebut nama perusahaannya.

Tak hanya trik itu saja yang dipakai untuk "merayu" dokter. Masih banyak cara lain yang dilakukan detailer agar obatnya diresepkan dokter "rekanan"-nya. Misalnya, iming-iming diskon atau bonus bila membeli obat tertentu dalan jumlah besar. Hal ini biasanya dilakukan oleh dokter yang langsung memberikan obat ke pasien. Atau, dokter yang secara langsung meminta pasien untuk membeli obat di apotek tertentu. ( Walau kadang-kadang tidak dibutuhkan pasien )

Menurut Anto, sumber di kalangan medis, indikasi-indikasi tersebut menunjukkan adanya "kolusi" antara dokter dan perusahaan farmasi. "Detailer akan lebih mudah menghitung jumlah obat produksinya yang diresepkan dokter, bila hubungan itu berjalan dengan lancar," jelasnya. "Dengan begitu, bonus atau diskon yang diterima dokter juga makin besar dan jelas," tambah Anto yang wanti-wanti tak mau ditulis identitasnya secara lengkap ini.

Anto mengaku bahwa dia memang pernah memanfaatkan kerja sama yang dijalinnya dengan perusahaan farmasi. Bahkan, untuk kepentingan pribadi sekalipun. Seperti, ketika menghadiri acara keluarga di Jakarta, dia meminta perusahaan farmasi yang cukup akrab dengannya, untuk menyediakan akomodasi selama di ibu kota. "Hal tersebut sudah saya lakukan berkali-kali," jelasnya.
Kompensasinya, kata Anto, sudah jelas. Yakni, dia harus meresepkan obat-obatan produksi farmasi tersebut dalam jumlah tertentu. "Ada hitungannya, tapi saya lupa," ungkapnya. Namun, dokter berusia 40 tahun ini mengelak bila hal tersebut dianggap kolusi. Dia beranggapan bahwa hubungan tersebut adalah bentuk kerja sama simbiosis mutualisme. "Saya kan sudah melariskan obatnya," lanjutnya. "Saya tidak pernah minta secara berlebihan. Apalagi, sampai minta dibelikan barang-barang mewah. Makanya, permintaan saya itu masih wajar," imbuhnya.

Prof dr HM Sajid Darmadipura SpBS, ketua KMEK (Komite Majelis Etik Kedokteran) Surabaya, mengakui kerja sama antara detailer dan dokter kerapkali terjadi. Bahkan, menurut Sajid, banyak juga PBF-PBF (pedagang besar farmasi) yang memberi hadiah-hadiah ke dokter. Tak hanya itu, berbagai fasilitas juga didapat dokter. Misalnya, bepergian atau berkunjung ke Eropa, mengikuti seminar internasional, maupun memperoleh keuntungan materi. "Sepanjang hal itu tidak mempengaruhi independensi profesinya, tidak masalah," ujarnya.

Namun, dia tidak memungkiri bila ada dokter-dokter 'nakal' ( kurangajar kali pak !!! ) yang membalas "hadiah" yang diberikan para PBF (pedagang besar farmasi) tersebut. Dia mencontohkan, dokter yang menganjurkan pasien untuk memeriksakan ke laboratorium pemberi hadiah tersebut. "Padahal, pasien rumahnya di Rungkut, namun dokter menganjurkan untuk memeriksakan ke laboratorium di Perak, milik pemberi hadiah tersebut," terangnya. Selain itu, juga meresepkan obat produksi PBF (pedagang besar farmasi) tertentu, padahal sebenarnya pasien bisa diresepkan obat generik.

Apakah yang dilakukan dokter tersebut melanggar kode etik kedokteran? Dijelaskan Sayid, dalam kode etik kedokteran pasal 3 yang berbunyi "Dalam melakukan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi". "Dalam kode etik kedokteran, bila ternyata pemberian itu mempengaruhi profesinya, hal itu melanggar. Sanksi etik ialah moral. Karena, moral itu tidak dapat diukur, maka dikembalikan lagi ke nuraninya sebagai seorang dokter," ujarnya. ( kalau masih ada dokter yang punyahati nurani )

Sajid tidak menyetujui, bila selama ini ada persepsi dari masyarakat yang mengatakan bahwa dokter tidak tersentuh hukum. Dijelaskan Sajid, dalam UU Praktek Kedokteran nomor 29 tahun 2004, pasal 73, ada tiga hal sanksi yang bisa mengenai dokter.

Pertama, sanksi disiplin bila menyangkut ketidak puasan pasien atas pelayanan yang diberikan dokter. Yang menangani persoalan itu ialah MKDI (Majelis Kehormatan Disiplin Indonesia). Sanksi yang diberikan oleh MKDI merupakan sanski pendidikan. "Bila MKDI menerima pengaduan pasien terkait masalah pelayanan dokter yang tidak memuaskan, MKDI bisa memberi peringatan hingga mencabut surat ijin prakteknya. ," ujarnya. Kemudian, dokter itu diwajibkan mengkikuti program pendidikan kembali. Setelah itu, untuk mendapatkan kompetensinya yang pernah dicabut itu, dokter tersebut harus melakukan registrasi lagi.. ( Biasanya hanya sampai disini saja teman-teman. Unyil kucing.. !! )

Kedua, sanksi etik diberikan ketika terjadi pelanggaran etik. Misalnya, kerjasama Pedagang Besar Farmasi / PBF-dokter yang memperngaruhi independensi dokter tersebut. Yang menangani persoalan itu ialah KEMK (komite etik majelis kedokteran). Bentuk sanksi yang diberikan mulai dari peringatan lisan hingga tertulis. "Dalam batas pelanggaran tertentu, kami bisa memberikan sanksi berupa mengumumkan nama dokter yang melanggar etika tersebut ke media massa," tuturnya. ( belum pernah dilaksanakan ya pak !!?)

Karena itu, menurut Sajid, sebagai profesi, dokter harus membekali lima asas etika. Yakni, benefence, apa yang dilakukan dokter harus memberi keuntungan. Kedua, asas non maleficiense, perbuatan yang tidak merugikan orang lain. Ketiga, asas otonomi yaitu, memperlakukan pasien sebagai subyek ukan obyek.. "Termasuk, kemandirian yang harus dimiliki dokter," ungkap Sajid yang juga menjabat sebagai Kepala Bioetik FK Unair.

Keempat, asas kejujuran yang harus dimiliki dokter terhadap pasien maupun masyarakat. Terakhir, asas confidiencely, dimana dokter tidak boleh menyiarkan stigma pasien. Seperti , kecacatan atau penyakit yang diderita pasien. "Bila dokter memegang kelima asas etik yang berlaku universal tersebut, saya pikir kasus-kasus pelanggaran etik tidak perlu terjadi," tukasnya. (sumber :http://ridhanif.multiply.com/reviews/item/4)


  • Kenali Manfaat Positif Mendongeng Bagi Anak
    Dua dari tiga anak berusia dini menginginkan lebih banyak waktu mendengar dongeng sebelum tidur. Hal ini dikatakan sejumlah peneliti di London, Inggris. Para peneliti di sana mengadakan studi yang…
  • Jangan Lupakan Lima Hal Ini Bila Anda Ingin Kembali Menjalin Cinta Dengan Mantan
    Ketika CLBK ( Cinta Lama Bersemi Kembali ) Ada Lima Hal yang Harus Diperhatikan Saat CLBK ( Cinta Lama Bersemi Kembali ). Jangan lupakan lima hal ini bila Anda ingin kembali menjalin cinta dengan…
  • Berikut adalah daftar 70 produk kosmetik yang Berbahaya
    Awas..!!!. Produk-Produk Berbahaya. Berikut adalah daftar 70 produk kosmetik yang dinyatakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai produk berbahaya.A. 18 merek kosmetik rias wajah dan…
  • Pilihlah Waktu Yang Tepat Kalau Memasang Kawat Gigi
    Salah satu perawatan yang bisa dilakukan untuk merapikan gigi adalah menggunakan kawat gigi. Tapi kapan sebenarnya seseorang membutuhkan kawat gigi?Penggunaan kawat gigi biasanya cukup sederhana…
  • Orang kaya atau berkuasa cenderung lebih ....
    Orang kaya atau berkuasa cenderung lebih culas, rakus, dan lebih mungkin berbohong - - Makin tinggi status ekonomi seseorang, makin tinggi sifat antisosial dan perilaku tak etis yang dimiliki.…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kesehatan (50) Fisikologi Anak (37) Ibu dan Buah Hati (36) Rahasia Pria (33) Pasangan Hidup (31) Fisikologi (30) Anak (29) Tips dan Triks (29) Agama (28) Karyawan (25) Puasa Dan Lebaran (25) Ramuan Herbal (25) Kehamilan (23) Filosofi (21) Orang Tua (20) Penyakit (20) Rahasia Wanita (20) Beauty (19) Rahasia Tubuh (19) Produk (18) Suami Isteri (17) Tips and Trick (17) Health (16) Insomnia (16) Pendidikan (16) Pendidikan Anak (15) Rumah Tangga (15) Gaya Hidup (14) Lifestyle (14) Mitos dan Fakta (13) Tekhnologi Untuk Anak (13) Bahasa Tubuh (12) Budaya (12) Kasih Sayang (12) Kecerdasan Anak (12) Friendships (11) Kecantikan (11) No Smoking (11) Remaja (11) Diet (10) Kehidupan (10) Masalah Tidur Pada Anak (10) Autisme (9) Breast Bancer (9) Kesehatan Anak (9) Beauty Products (8) Makanan (8) Dating (7) Fashions (7) Kesehatan Wanita (7) Kesehatan Gigi (7) Moral (7) Beauty Recipes (6) Facebook (6) Hukum Islam (6) Kartu Kredit (6) Perawatan Rambut (6) Pernikahan (6) Perselingkuhan (6) Jewelry (5) Kesehatan Kulit (5) Pengobatan (5) Bayi Prematur (4) Breast Feeding (4) Fenomena (4) Keamanan (4) Products (4) Tekhnologi (4) Therapy (4) Wedding (4) Baby Gift (3) Baby games (3) Inner Beauty (3) Kejahatan (3) Multivitamin (3) Online Dating (3) Pendidikan Keluarga (3) Rezeki (3) Seluk Beluk Payudara (3) Seni Bercinta (3) Baby Names (2) Internet Marketing (2) Kanker Payudara (2) Kesehatan Telinga (2) Nasionalisme (2) Natural Beauty (2) Para Penguasa (2) Penyakit Jantung (2) Seksologi (2) Selebritis (2) Sleep (2) Teroris (2) Tontonan Anak (2) Alergi (1) Cancer (1) Demam Berdarah (1) Diabetes (1) Indonesia (1) Kenangan (1) Kesehatan Mata (1) Lung Cancer (1) Natural Product (1) Party (1) Penyakit Maag (1) SEO (1) Science (1) Seluk Beluk Ciuman (1) Seluk Beluk Vagina (1) Wa (1) m (1)